Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Pasar Mulai Bangkit, Intiland Optimis Capai Target. Per Juni Marketing Sales Sudah Rp940 M

Pasar Mulai Bangkit, Intiland Optimis Capai Target. Per Juni Marketing Sales Sudah Rp940 M Kredit Foto: Intiland Development
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Intiland Development Tbk (DILD) optimis bisa mencapai target marketing sales tahun ini yang dipatok sebesar Rp2,02 triliun. Hingga Juni 2021, perseroan telah mengantongi marketing sales senilai Rp947 miliar.

“Target Rp2 triliun sampai Juni suddha Rp940 miliar, sampai pertengahan sudah mau 50% hopefully angka ini bisa dicapai di tahun 2021,” kata Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono, dalam paparan publik, di Jakarta, Selasa (22/6/2021).

Menurutnya, saat ini perusahaan melihat adanya perubahan pola pasar properti yang menjadi lebih optimis sejak awal tahun 2021. Permintaan masyarakat dan konsumen terhadap produk-produk properti mulai bertumbuh. Gejala tersebut juga terjadi di sejumlah pengembangan proyek Perseroan, khususnya di pasar rumah tapak. Potret perubahan tersebut juga terlihat dari kinerja penjualan di kuartal I tahun ini. 

Baca Juga: Pasar Properti Mulai Bangkit, Penjualan Intiland Melesat Hingga 135% di Tiga Bulan Pertama 2021

Archied memproyeksikan industri properti masih akan terus beradaptasi dan mencari titik balik untuk kembali mencapai pertumbuhan. Seluruh pelaku industri properti dituntut untuk mampu menyesuaikan dan mencari cara-cara inovatif menghadapi dinamika pasar dan konsumen.

Meskipun prospek pasar properti ke depan masih penuh tantangan, namun Perseroan optimistik situasi dan kondisi akan berangsur-angsur membaik. Pasalnya, saat ini menjadi waktu yang tepat bagi masyarakat untuk membeli properti.

“Ini adalah momentum terbaik bagi konsumen dan investor untuk pembelian properti. Pasar properti dalam tren positif seiring meningkatnya permintaan masyarakat dan adanya insentif kebijakan pemerintah," kata Archied.

Archied menilai insentif kebijakan yang digelontorkan pemerintah memberikan dampak yang sangat baik bagi sektor properti. Stimulus tersebut bukan hanya berpengaruh terhadap penjualan produk-produk properti yang nilainya masuk ke dalam kriteria insentif, namun juga berimbas kepada produk-produk properti lainya. Kebijakan tersebut dinilai mampu memberikan efek psikologis kepada masyarakat dengan menumbuhkan kembali keyakinan untuk pembelian properti.

Baca Juga: Sektor Properti Banjir Stimulus Pemerintah, Jangan Lupa Perlindungannya!

Perseroan tahun ini terus berupaya maksimal menjaga kinerja usaha dan meningkatkan penjualan. Pengembangan baru difokuskan pada proyek-proyek berjalan serta peningkatan penjualan dari inventori atau stok produk. Perseroan saat ini memiliki cukup stok unit-unit siap huni di sejumlah proyek high rise, seperti apartemen 1Park Avenue, Regatta, Graha Golf, Praxis, The Rosebay, Sumatra36 dan Aeropolis.

Mempertimbangkan situasi dan kondisi yang dihadapi saat saat ini, Perseroan cenderung menempuh langkah konservatif dalam memutuskan setiap pengembangan proyek baru, khususnya proyek-proyek di segmen mixed-use & high rise. 


“Market highrise memang kita lihat demandnnya masih soft kita juga masih punya stock high rise, untuk stock low rise kita belum banyak karena pre sales. Low rise untuk proyek baru. kita lihat appetite market yang kayanya masih dalam tahap recover, memang biasanya kalau pasar mulai recover ini mulai landed baru mulai high rise,” terangnya.

Ia menyebutkan perseroan tahun ini meluncurkan beberapa pengembangan baru di sejumlah proyek. Beberapa pengembangan baru tersebut seperti peluncuran klaster duo di perumahan Talaga Bestari, klaster Sierra di proyek Serenia Hills, dan tiga klaster baru di perumahan Graha Natura Surabaya.

Sementara untuk proyek baru, Perseroan memulai pengembangan kawasan mixed use terpadu Tierra di kota Surabaya. Pengembangan baru yang dimulai dengan peluncuran produk komersial Tierra SOHO tersebut sukses dan mendapat sambutan sangat baik dari masyarakat.

"Kami percaya bahwa permintaan pasar dan daya beli masih ada. Jadi tantangannya adalah jeli menangkap kebutuhan dan mampu memberikan produk-produk yang inovatif yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat," pungkas Archied

Penulis: Annisa Nurfitriyani
Editor: Annisa Nurfitriyani

Bagikan Artikel:

Video Pilihan