Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Ancaman Ransomware Merajalela, Trend Micro Beberkan Data Kejahatan Siber Awal Tahun 2021

Ancaman Ransomware Merajalela, Trend Micro Beberkan Data Kejahatan Siber Awal Tahun 2021 Kredit Foto: Unsplash
Warta Ekonomi, Jakarta -

Di tengah era digital dan penggunaan teknologi, banyak perusahaan di Indonesia yang masih memiliki banyak permasalahan seputar kejahatan siber. Mari kembali melihat ke belakang dan belajar dari insiden keamanan siber yang terjadi pada paruh pertama 2021, oleh data dari Trend Mikro.

Pelaku ancaman dan operator ransomware membombardir lanskap keamanan dengan satu serangan besar satu demi satu sehingga menyulitkan perusahaan yang terkena dampak, juga pelanggan mereka, untuk kembali pulih di tengah pandemi saat ini.

Baca Juga: Tingkatkan Kewaspadaan, Kejahatan Siber Makin Banyak Seiring Perkembangan Teknologi

Ransomware merupakan sebuah nama dari kelas malware yang terdiri dari dua kata, ransom (tebusan) dan malware, yang bertujuan menuntut pembayaran untuk data/informasi pribadi yang telah dicuri, atau data yang aksesnya dibatasi

Secara total menurut data dari Trend Micro bertajuk "Attacks From All Angles: 2021 Midyear Cybersecurity Report", dipaparlan hampir 41 miliar ancaman diblokir dan dideteksi di seluruh file, email, dan URL dalam enam bulan pertama tahun ini.

Country Manager Indonesia Trend Micro, Laksana Budiwiyono, dalam webinar Perbankan: Countering Cyber Crime For Digital Trust In The Financial Sector, Selasa (21/9), mengungkapkan, para penjahat siber ini memanfaatkan isu Covid-19 sebagai sumber serangan-serangan yang mereka lakukan.

"Deteksi ransomware menurun lebih dari setengahnya, dari lebih dari 14 juta pada paruh pertama tahun 2020 menjadi lebih dari 7 juta pada periode yang sama tahun ini. Namun, ini ada komanya, hal ini tidak berarti bahwa ransomware tidak lagi menjadi masalah keamanan yang mendesak; dampaknya, ransomware terus bermutasi menjadi ancaman yang lebih ganas," ungkap Laksamana.

Operator Ransomware memiliki empat level pemerasan untuk menekan organisasi hingga meminta bayaran, yaitu single extortion, double extortion, triple extortion, dan quadruple extortion. Menurut Laksamana, pada level quadruple extortion penjahat siber bisa sampai meneror customer.

"Sekali hantam ia bisa empat level langsung dan sangat dahsyat. Untuk target, bank menjadi ranking tertinggi dengan angka 16,537; diikuti pemerintah dengan 10,226; manufacturing sebesar 4,957," imbuhnya.

Ia lebih jauh menuturkan kejahatan siber ini menunjukkan bagaimana penyerang beralih dari model oportunistik dan berfokus pada kuantitas ke metode ransomware modern yang lebih bertarget dengan perburuan besar-besaran.

"Ransomware pramodern dan modern termasuk di antara 10 besar yang paling terdeteksi untuk paruh pertama tahun ini," jelasnya.

Baca Juga: Pendukungnya Sebut Anies Kerap Diserang Isu Hoaks, Waketum Partai Garuda Sentil: Jika Tidak Mampu Menari, Jangan Salahkan Lantainya

Penulis: Nuzulia Nur Rahma
Editor: Puri Mei Setyaningrum

Advertisement

Bagikan Artikel: