Bioenergi Sumbang 35 Persen dari Porsi EBT di Indonesia

Bioenergi Sumbang 35 Persen dari Porsi EBT di Indonesia Kredit Foto: Antara/Aprillio Akbar

Dirjen EBTKE, Kementerian ESDM, Dadan Rusdiana, mengungkapkan, porsi energi fosil saat ini paling mendominasi, yakni sebesar 88,8 persen pada 2020. Jumlah tersebut terdiri dari batu bara sebesar 38 persen; minyak bumi sebesar 31,6 persen; dan gas alam 19,2 persen. Sementara, porsi EBT sebesar 11,2 persen. Dari total porsi EBT tersebut, sebanyak 35 persen berasal dari bioenergi.

Dalam mendukung bauran EBT sebesar 25 persen pada 2025, Kementerian ESDM menargetkan batu bara sebesar 30 persen; minyak bumi sebesar 25 persen; gas alam sebesar 22 persen; dan EBT sebesar 25 persen.

Baca Juga: Ini Strategi Pemerintah Percepat Implementasi EBT di Indonesia

"Kemudian bahan bakar nabati terkait langsung dengan kilang kita punya program pentahapan mandatori BBM. Sampai tahun 2025, targetnya sesuai dengan Rencana Umum Energi Nasional itu sebesar 13,9 juta kL. Tahun ini 2021 baru sebesar 9,2 juta kL," katanya dalam webinar "Kilang dalam Transisi Energi: Roadmap Pengembangan Kilang dan Petrokimia, Green Fuel serta Hilirisasi Produk", Selasa (16/11/2021).

Saat ini pihaknya telah mendorong peningkatan pemanfaatan bioenergi dengan memproduksi bioenergi yang rendah karbon seperti biodiesel dan bioavtur. Kementerian ESDM sudah memiliki roadmap 2035 agar biodiesel tetap terjaga dengan baik.

Pemanfaatan bioetanol saat ini belum terimplementasikan yang disebabkan dari sisi suplai tidak bisa mendukung sektor energi. Hal ini karena dari sisi harga masih mengalami kesulitan dalam pencampuran dengan bahan bakar bensin.

"Itu dari sisi pemanfaatan juga melibatkan petani, juga mendapatkan manfaat dari program mandatori biodiesel secara khusus termasuk indikator keberlanjutan bahwa biodiesel ini diproduksi dan dihasilkan dari proses-proses berkelanjutan juga. Biodiesl ini EBT yang berbasis tanaman," katanya.

Hasilnya, bulan September telah dilakukan launching penggunaan uji coba bioavtur 2,4 persen yang digunakan kepada pesawat terbang seri CN235-200 milik PT Dirgantara Indonesia yang terbang dengan rute Jakarta-Bandung.

Proyek pengembangan bahan bakar nabati dan industri penunjang tersebut merupakan bagian dari proyek strategis nasional yang ditetapkan presiden dan ditindaklanjuti oleh menteri perekonomian. Beberapa proyek yang sudah berjalan seperti Standalone RU III Plaju, Revamping RU IV Cilacap, Hidrogensi CPO, Katalis Merah Putih, Program Pengembangan Bensin Sawit.

"Ada beberapa hal yang disiapkan dalam pemanfaatan greenfuel yang berasal dari kilang Pertamina, menyusun timeline persiapan implementasi B30. Menurut Presiden, perlu ditingkatkan karena produksi sawit meningkat untuk meningkatkan B40-B50 hasilnya baik akan ada tes untuk memastikan bahan bakar mesin ini sesuai," pungkasnya.

Investasi terbaik ialah investasi leher ke atas. Yuk, tingkatkan kemampuan dan keterampilan diri Anda dengan mengikuti kelas-kelas di WE Academy. Daftar di sini.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini