Dear UMKM, Mari Belajar Strategi Membangun Brand di Era Digital

Dear UMKM, Mari Belajar Strategi Membangun Brand di Era Digital Kredit Foto: Kemenkominfo

Sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan tulang punggung perekonomian bangsa. Di tengah pandemi COVID-19, kita perlu mengapresiasi dan membantu UMKM agar berhasil bangkit kembali.

Dengan diresmikannya Gernas #BanggaBuatanIndonesia pada 14 Mei 2020 lalu, Presiden Jokowi juga mengajak kita untuk mendorong national branding produk lokal unggulan. Pemanfaatan teknologi digital pun menjadi penting, agar UMKM bisa bangkit, naik kelas, serta terus adaptif dan kreatif mengikuti pasar hari ini.

Pasalnya, dunia kini memasuki era revolusi industri 4.0, yakni industri berdasarkan cyber-physical yang menekankan pada pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, dan lain sebagainya atau dikenal dengan fenomena disruptive innovation. Era ini dikenal pula dengan istilah IoT atau“Internet of Things”, di mana semua perangkat di sekitar kita terhubung dengan internet.

“Implementasi industri 4.0 dinilai sebagai strategi tepat untuk membangkitkan aktivitas sektor manufaktur di dalam negeri pada fase new normal (kenormalan baru),” jelas Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Maritim Kemkominfo, Septriana Tangkary dalam acara Forum Digitalk dengan tema “Strategi Membangun Brand di Era Digital”.

Baca Juga: Survei SEA e-Conomy: 28% UMKM Indonesia Percaya Tak Akan Selamat dari Pandemi tanpa Digitalisasi

Digital Strategist, Bryan Erfanda Putra mengungkapkan jika branding bukan hanya sekedar slogan, logo, merk dan produk, tetapi semua hal saat ini adalah brand, bahkan kita secara pribadi adalah sebuah brand juga. Sederhananya, brand merupakan sebuah ikatan emosi antara produk anda dengan konsumen, karena brand adalah gabungan nama dan makna. Lebih jauh Bryan menyampaikan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan dalam membangun brand adalah riset, karena bila membangun tanpa data maka siap-siap gagal dan salah satu yang membuat kita gagal adalah asumsi. 

“Biasanya kesalahan besar saat usaha mau tumbuh adalah kita membuat sesuatu yang tidak dibutuhkan, jadi ketika kita akan melakukan branding maka kita harus pahami betul produk saya itu digunakan untuk siapa, kemana, dan sebagainya”, ujar Bryan

Sub Koordinator Perekonomian II Direktorat IKPM Kemkominfo, Dewi Susilorini, menyampaikan bahwa dari 326.000 UMKM Bali, sebesar 87,5% UMKM terdampak Covid-19.

“Inilah tantangan bagi UMKM kita saat ini pada khususnya di Bali untuk dapat mengembangkan usahanya menjadi Go Digital melalui potensi-potensi yang sudah ada,” ungkap Susi.

Baca Juga: Indonesia Gaungkan Kerja Sama Pemberdayaan UMKM dan Penanganan Perubahan Iklim di Asia Pasifik

City Seller Performance Tokopedia, Kiki Putri Pasai menjelaskan bahwa Tokopedia senantiasa memberikan dukungan untuk meningkatkan performa dari seller-seller yang sudah memutuskan untuk go-digital. 

“Tokopedia sudah membuat halaman khusus yaitu kumpulan toko pilihan Denpasar, dimana seller-seller yang tergabung di sana akan di support  mulai dari flash sale, promo cashback dan promo-promo lain dari lokal untuk lokal,” kata Kiki. 

Pemilik Gopala Kana, Putu Nityananda, menceritakan pengalamannya dalam menjalankan bisnis dan bagaimana digital marketplace sangat membantu pengembangan bisnisnya. 

Putu memberikan beberapa tips atau kiat sukses yang telah dijalankannya, diantaranya adalah gunakan top ads atau iklan internet, kata kunci yang benar dan buat foto produk yang menarik. 

“Sejak saya menggunakan tips-tips tersebut, banyak yang WA dan email saya untuk menjadi reseller, jadi transaksinya bisa kemana-mana padahal katalognya hanya di tokopedia”, demikian Putu menceritakan.  

Investasi terbaik ialah investasi leher ke atas. Yuk, tingkatkan kemampuan dan keterampilan diri Anda dengan mengikuti kelas-kelas di WE Academy. Daftar di sini.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini