Mewujudkan Work-life Balance di tengah Pandemi Covid-19

Mewujudkan Work-life Balance di tengah Pandemi Covid-19 Kredit Foto: Antara/Aprillio Akbar

Pandemi Covid-19 menghadirkan tantangan tersendiri bagi para pekerja, khususnya dalam mewujudkan praktik keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance).

Asih (28 tahun), seorang pengajar di sekolah swasta di Jakarta, sudah hampir enam bulan ini harus rutin kontrol ke dokter spesialis jiwa karena didiagnosis menderita skizofrenia. Salah satu penyebabnya ialah ketidakmampuannya menyeimbangkan kehidupan semenjak menjalani praktik kerja dari rumah (work from home) per Maret 2020 silam.

"Saya merasa tidak ada waktu istirahat saat bekerja dari rumah. Panggilan telepon tidak mengenal waktu. Saya pernah sangat cemas dan takut buat melihat telepon genggam," katanya kepada Warta Ekonomi di Jakarta, Selasa (30/11/2021).

Baca Juga: WFH Kelar, Perhatikan 5 Hal Berikut Sebelum Kamu Memulai WFO Ya

Perempuan yang mengajar mata pelajaran bahasa tersebut mungkin hanya satu dari banyak orang yang kesulitan mengatur keseimbangan antara kehidupan keluarga dan pekerjaan selama menjalani WFH.

Dampak ke pekerja tentu berbeda-beda. Beberapa pekerja sekadar mengalami stress atau burnout, tetapi ada juga yang sampai menderita depresi hingga skizofrenia.

Hal tersebut senada dengan laporan survei Jobstreet yang menyebutkan bahwa kualitas kehidupan para pekerja di Indonesia menurun drastis selama masa pandemi Covid-19, ditandai oleh sebesar 33% pekerja merasa tidak lagi bahagia dengan situasi pekerjaannya meskipun masih mempunyai pekerjaan. Salah satu faktor yang mempengaruhi ketidakpuasan tersebut ialah kebijakan WFH.

Psikolog, Mellissa Catalina, mengakui bahwa mewujudkan work-life balance sangat penting bagi seorang pekerja. Ia menjelaskan, seorang pekerja tidak hanya mendambakan kesejahteraan finansial semata, namun juga kesejahteraan mental dan kesehatan.

"Kita perlu punya strategi khusus untuk mengatur hidup kita supaya lebih happy. Karena bekerja bukan satu-satunya faktor yang bikin kita bahagia. Maksudnya, ada yang namanya work-life balance alias keseimbangan," tuturnya.

Menyadari pentingnya work-life balance, beberapa perusahaan melakukan upaya inisiatif untuk membantu para karyawan guna mewujudkan hal tersebut. Misalnya, saja PT Bank DBS Indonesia dan PT Johnson & Johnson Indonesia yang membuat berbagai macam program guna mendukung keseimbangan kehidupan bekerja bagi para karyawan selama pandemi Covid-19 ini. 

Inisiatif Perusahaan

Country Leader of Communications & Public Affairs Johnson & Johnson Indonesia, Devy Yheanne, menegaskan perusahaannya memiliki komitmen untuk menomorsatukan kesehatan fisik dan mental karyawan pada masa pandemi Covid-19.

Berbagai macam upaya dilakukan oleh Johnson & Johnson Indonesia guna mewujudkan hal tersebut seperti menyediakan perlengkapan untuk bekerja dari rumah berupa peralatan home office, menyediakan perlengkapan agar dapat berolahraga dari rumah, hingga hotline untuk berkonsultasi dengan psikolog.

"Sumber daya manusia adalah aset utama perusahaan yang harus dijaga. Hal ini juga sesuai dengan credo perusahaan yang menempatkan karyawannya sebagai salah satu prioritas utama," kata Devy Yheanne dalam keterangan pers.

Adapun, Head of HR PT Bank DBS Indonesia, Aries Sunu, mengatakan pihaknya menyiapkan berbagai macam inisiatif untuk membantu para karyawan mewujudkan work-life balance seperti menyediakan bantuan pembelian paket internet/mobile data serta memberikan kesempatan bagi karyawan melakukan klaim atas biaya-biaya yang dikeluarkan untuk home office essential seperti meja & kursi kerja, headset, dan aksesoris komputer lainnya.

"Sejak awal pandemi hingga saat ini telah dilakukan beberapa peningkatan dan pengembangan infrastruktur seperti pembelian laptop dalam jumlah yang cukup besar dalam waktu singkat sehingga segera dapat meningkatkan jumlah karyawan yang dapat bekerja dari rumah," kata Aries Sunu dalam wawancara khusus dengan Warta Ekonomi di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Aries menambahkan, Bank DBS Indonesia juga membantu para karyawan dalam memperoleh work-life balance dengan meninjau kembali kebijakan flexible working arrangement. DBS pun melakukan observasi atas aktivitas virtual karyawan yang dilakukan pada jam kerja selama pandemi Covid-19.

Hasilnya, diperlukan adanya waktu yang didedikasikan untuk fokus pada penyelesaian pekerjaan atau project tanpa terganggu dengan adanya jadwal meeting. Terhadap hasil observasi tersebut, ia mengatakan DBS memberlakukan penerapan program Focus Friday yaitu karyawan diimbau untuk tidak mengadakan meeting pada hari Jumat setelah jam makan siang.

"Diharapkan, karyawan dapat segera berkumpul dengan keluarga atau beraktivitas sesuai dengan minat dan bakat masing-masing mulai jam 4 sore di setiap hari Jumat," paparnya.

Pria yang memiliki gelar Master of Science (Cum Laude) dari KU Leuven Belgia ini mengatakan Bank DBS Indonesia berkomitmen untuk menyediakan lingkungan yang mendukung di mana karyawan dapat membuat pilihan yang lebih sehat. Ia memastikan tetap sehat secara holistik dalam seluruh aspek kehidupan karyawan merupakan hal yang utama. 

"Bagi Bank DBS Indonesia, karyawan adalah aset terpenting sehingga kami menjunjung tinggi komitmen dalam menerapkan kebijakan yang ideal di mana karyawan dapat memperoleh keseimbangan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadinya," pungkasnya.

Investasi terbaik ialah investasi leher ke atas. Yuk, tingkatkan kemampuan dan keterampilan diri Anda dengan mengikuti kelas-kelas di WE Academy. Daftar di sini.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini