Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Guru Besar IPB University Beri Usulan Kebijakan Atasi Kelangkaan Kedelai, Daging, dan Minyak Goreng

Guru Besar IPB University Beri Usulan Kebijakan Atasi Kelangkaan Kedelai, Daging, dan Minyak Goreng Kredit Foto: IPB
Warta Ekonomi, Bogor -

Dewan Guru Besar (DGB) IPB University menggelar Focus Group Discussion (FGD) yang membahas tentang kebijakan untuk mengantisipasi krisis pangan, Jumat (25/3/2022). Ketua DGB IPB University Prof. Evy Damayanthi mengatakan FGD ini sebagai respon DGB IPB University terhadap persoalan pangan dalam beberapa waktu terakhir.

"Kami diberi tugas untuk membantu memikirkan persoalan bangsa sesuai dengan kepakarannya terutama terkait persoalan pangan khususnya untuk komoditas kedelai, minyak goreng, dan daging," kata Prof Evy dalam sambutannya dikutip dari rilis pers tertulis, Selasa (29/3/2022).

Baca Juga: Waduh, IPB University Sebut Teluk Jakarta Paling Banyak Terima Limbah Domestik

Dalam kesempatan itu, Guru Besar IPB Fakultas Ekonomi Manajemen (FEM) IPB University Prof. Muhammad Firdaus membuka fakta-fakta terkait kedelai di Indonesia. Sejak tahun 2019 dan 2021, produksi kedelai nasional menurun cukup signifikan, dari 424.289 ton menjadi 211.265 ton. Pada tahun yang sama, impor kedelai naik dari 87 persen menjadi lebih dari 90 persen dari total kebutuhan nasional sebanyak 2,8 juta ton.

"Saat ini harga kedelai di pasar internasional cenderung meningkat. Jika harga keseimbangan baru kedelai impor di atas 12 ribu per kilogram, maka harga kedelai lokal di atas 10 ribu per  kilogram akan dapat memberikan pendapatan bersih meski tidak terlalu tinggi bagi petani," kata Prof. Firdaus.

Dari fakta tersebut, Prof. Firdaus memberi usulan kebijakan untuk mengatasi krisis pangan di Indonesia. Ia memberikan usulan dalam jangka pendek, menengah, dan jangka panjang. Dalam jangka pendek, kebijakan yang dapat dilakukan adalah membuka pintu kepada lebih banyak importir dan melakukan kerja sama bilateral dan Business to Business (B2B) untuk meningkatkan efisiensi logistik.

Baca Juga: Guru Besar IPB: Bawang Merah Melimpah, Tidak Perlu Impor

Adapun usulan yang bersifat jangka menengah atau panjang meliputi mempertimbangkan instrumen tarif untuk impor kedelai sehingga daya saing kedelai lokal dapat meningkat. Tidak hanya itu, perlu mempercepat penanaman kedelai di dalam negeri untuk captive market sebesar 1 juta ton.

"Perlu peningkatan efisiensi usahatani, baik penggunaan tenaga kerja (dominan) dan biaya input seperti pupuk dengan circular agriculture dan pengembangan varietas yang adaptif terhadap lahan kering disertai dengan penerapan teknologi hemat air," ujarnya.

Selain kedelai, Prof. Firdaus juga menyinggung terkait daging. Ia menyebut, selama tiga tahun terakhir, rata-rata produksi daging sapi nasional hampir 600 ribu ton. Masyarakat Indonesia sendiri mengonsumsi daging ruminansia sangat rendah dibandingkan dengan negara ASEAN lain, apalagi negara maju.

Baca Juga: OJK Bakal Evaluasi Semua Produk Saving Plan di Industri Asuransi

Baca Juga: Lihat Anies Pakai Private Jet, Ferdinand Hutahean: Dia Salah Satu Oligarki Migas?

Editor: Ayu Almas

Advertisement

Bagikan Artikel: