Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Usai Jadi Korban Pengeroyokan, Ade Armando Kembali: Hari Ini Saya Mulai Muncul Lagi

Usai Jadi Korban Pengeroyokan, Ade Armando Kembali: Hari Ini Saya Mulai Muncul Lagi Kredit Foto: Instagram/Ade Armando
Warta Ekonomi, Jakarta -

Dosen Universitas Indonesia, Ade Armando kembali muncul dalam kanal YouTube CokroTV, yang diunggah Selasa (17/5/2022). Video itu diberi judul: Tidak Ada Kata Mundur Dalam Memperjuangkan Kebenaran.

Ade Armando mengawali videonya dengan menjawab pertanyaan yang banyak muncul: Apakah Ade Armando akan tetap kritis terhadap Islam? Ia pun menjawabnya dengan tegas, bahwa ia tidak kritis terhadap Islam, tetapi ia hanya kritis terhadap penafsiran terhadap Islam.

Baca Juga: Jadi ini Alasan Sebenarnya Ade Armando Datangi Demonstrasi 11 April di Gedung DPR

"Itu adalah dua hal yang sangat berbeda. Saya percaya bahwa Islam adalah ajaran yang membawa perdamaian dan rahmat bagi seluruh alam. Namun karena cara penafsiran yang menurut saya salah, Islam kini seolah menjadi sumber perpecahan, kebencian, dan kekerasan," kata Ade dikutip dari videonya, Rabu (18/5/2022).

Sang dosen itupun merasa ia harus meluruskan salah tafsir di masyarakat, karena itu adalah agamanya. Dan ia juga paham itu membawa resiko yang besar. Meksi begitu, ia merasa pantas untuk menyampaikan hal tersebut.

"Karena itu buat saya, mengkritik cara penafsiran Islam yang sempit adalah kewajiban, apapun risikonya," kata Ade.

Ia pun melanjutkan dengan menceritakan Farag Fouda, Penulis dari Mesir. Tokoh itu, diceritakan Ade, adalah tokoh yang kerap mengkritik salah pemikiran dan salah tafsir dari kalangan Islam. Oleh karenanya, ia sering berhadapan dengan para Islam radikal. Singkat cerita, tokoh itu akhirnya dibunuh oleh kalangan Islam radikal.

Namun, Ade menyebut tidak mau membandingkan dirinya dengan tokoh tersebut. Tetapi yang coba disampaikannya dengan menceritakan Fouda adalah memperjuangkan sesuatu yang dianggap benar itu penuh resiko.

"Tapi yang ingin saya katakan, memperjuangkan kebebasan dan keterbukaan dalam beragama itu adalah sebuah kewajiban yang penuh mengandung risiko. Tapi tidak boleh ada kata mundur,"

Editor: Adrial Akbar

Tag Terkait:

Bagikan Artikel:

Video Pilihan