Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Negara-negara G7 Galang Dana Gabungan Pepet China, yang Mau Dijegal Ternyata...

Negara-negara G7 Galang Dana Gabungan Pepet China, yang Mau Dijegal Ternyata... Kredit Foto: Reuters/Patrick Semansky

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan, Eropa akan memobilisasi 300 miliar euro untuk prakarsa selama periode yang sama guna membangun alternatif berkelanjutan bagi skema Belt and Road. Proyek yang dinilai mengancam oleh Barat ini diluncurkan Presiden Cina Xi Jinping pada 2013.

Para pemimpin Italia, Kanada, dan Jepang juga berbicara tentang rencananya dengan beberapa di antaranya telah diumumkan secara terpisah. Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson tidak hadir, tetapi negara mereka juga berpartisipasi.

Baca Juga: Kemenangan Ukraina di Depan Mata Usai Resmi Gabung Uni Eropa, Presiden Zelensky: Kita Bisa Beristirahat!

Skema investasi China melibatkan pengembangan dan program di lebih dari 100 negara. Proyek ini bertujuan untuk menciptakan versi modern dari jalur perdagangan Jalur Sutra kuno dari Asia ke Eropa. Namun, pejabat Gedung Putih mengatakan, rencana itu hanya memberikan sedikit manfaat nyata bagi banyak negara berkembang.

Wakil presiden kelompok nirlaba Global Citizen Friederike Roder mengatakan, janji investasi bisa menjadi awal yang baik menuju keterlibatan yang lebih besar oleh negara-negara G7 di negara-negara berkembang. Tindakan itu dapat mendukung pertumbuhan global yang lebih kuat untuk semua.

Negara-negara G7 rata-rata hanya memberikan 0,32 persen dari pendapatan nasional bruto, kurang dari setengah dari 0,7 persen yang dijanjikan, dalam bantuan pembangunan. "Namun tanpa negara berkembang, tidak akan ada pemulihan ekonomi dunia yang berkelanjutan," katanya. 

Baca Juga: Orang Dekat Tanggapi Pujian Jokowi ke Prabowo: Tega Dia Ngomong Begitu, Darah Dingin Gitu

Halaman:

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Editor: Muhammad Syahrianto

Advertisement

Bagikan Artikel: