Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Waspadai Kenaikan Harga Gandum, Badan Pangan Nasional Dorong Penganekaragaman Pangan

Waspadai Kenaikan Harga Gandum, Badan Pangan Nasional Dorong Penganekaragaman Pangan Kredit Foto: BPN
Warta Ekonomi, Jakarta -

Mengantisipasi potensi kenaikan harga gandum dunia yang dapat berpengaruh pada kenaikan harga pangan dalam negeri seperti roti dan mie, Badan Pangan Nasional (National Food Agency/NFA) melakukan upaya mitigasi salah satunya dengan mendorong penganekaragaman konsumsi pangan. Hal tersebut disampaikan Kepala NFA Arief Prasetyo Adi di Kantor NFA, Jakarta, Rabu (20/07/2022).

Arief menjelaskan, kenaikan harga gandum yang dapat mengakibatkan naiknya harga mie dan roti di dalam negeri merupakan alarm peringatan untuk memperkuat kembali komitmen penganekaragaman konsumsi pangan dengan memanfaatkan bahan pangan lokal. Saat ini sumber pangan lokal sudah tersedia di mana-mana, bahkan aneka olahan pangan sudah banyak dijual, baik melalui onsite maupun online.

"Kita perlu mendorong masyarakat untuk mengonsumsi olahan pangan lokal tersebut. Sangat disayangkan apabila produk pangan lokal tidak terserap, sudah diolah dan tersedia tapi belum dimanfaatkan secara optimal. Aneka pangan lokal baik juga bagi kesehatan karena minim gluten," ujarnya.

Baca Juga: Produktivitas Kelapa Sawit Berkorelasi Positif dengan Kesejahteraan Petani

Untuk percepatan penyerapan, menurutnya, diperlukan penguatan sektor hilir agar berbagai produk pangan lokal alternatif tersebut mampu diserap secara optimal dan memberikan kebermanfaatan ekonomi bagi para penggeraknya.

“Dukungan pola konsumsi dan bisnis sangat diperlukan, melalui saluran distribusi dan fasilitasi bagi pengembangan produk pangan baru. Untuk itu, NFA mendorong pelaku usaha, baik BUMN Perum Bulog dan Holding Pangan ID FOOD, serta sektor swasta melakukan sinergi peningkatan pendistribusian dan penjualan produk pangan lokal alternatif,” ungkapnya.

Arief mengatakan, substitusi seperti inilah yang perlu terus dilakukan, sehingga bukan hanya menjaga ketersediaan bahan pangan, melainkan juga menghemat devisa negara. Jika kita bisa melakukan substitusi pangan yang berbahan baku gandum seperti terigu menjadi tepung beras dan singkong sebanyak 10% saja, itu telah sama dengan saving Rp2,4 triliun per tahun.

Baca Juga: Buntut Sodetan Ciliwung, Sikap Jokowi Terhadap Anies Dibandingkan dengan SBY Terkait Kompetisi Capres: Bapak Demokrasi!

Editor: Rosmayanti

Advertisement

Bagikan Artikel: