Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Rekaman CCTV dan Hasil Autopsi Brigadir J Harus Dibuka ke Publik, Ahmad Sahroni: Jangan Baru Seperempat Fase Sudah Konpers!

Rekaman CCTV dan Hasil Autopsi Brigadir J Harus Dibuka ke Publik, Ahmad Sahroni: Jangan Baru Seperempat Fase Sudah Konpers! Kredit Foto: Instagram/Ahmad Sahroni
Warta Ekonomi, Jakarta -

Penyelidikan kasus kematian Brigadir J dalam baku tembak di kediaman Irjen Ferdy Sambo masih menjadi perhatian khalayak. Apalagi kini sudah muncul temuan bukti dan fakta baru, seperti CCTV di TKP dan autopsi ulang jenazah korban.

Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni meminta pihak kepolisian untuk mengungkap peristiwa naas ini ke publik. Ia menuntut Polri sesegera mungkin membuka rekaman CCTV dan hasil autopsi tersebut kepada publik.

Transparansi, menurut politikus Partai NasDem itu, penting agar semua informasi bisa didapatkan masyarakat secara terang benderang.

Baca Juga: Irjen Dedi Prasetyo Buka-Bukaan Soal Penemuan CCTV, Ternyata....

"Saya kira apa pun hasil pemeriksaannya, harus dibuka secara transparan ke publik," kata Ahmad Sahroni dalam keterangan di Jakarta, Jumat (22/7/2022).

Dia pun meminta adanya manajemen waktu yang baik dalam menyampaikan semua fakta tentang kematian Brigadir J.

"Artinya, penyampaian ini harus dilakukan secara komprehensif, dan tidak sepotong-sepotong, agar terang benderang," tegasnya.

Pria asal Tanjung Priok, Jakarta Utara itu mengatakan informasi yang sepotong-sepotong bisa menyebabkan misinformasi bahkan menimbulkan berbagai asumsi liar di masyarakat. Demi menghindari hal tersebut, Polri harus menyampaikan informasiyang utuh tentang kematian Brigadir J.

Baca Juga: Polri Berhasil Amankan CCTV, Insiden Rumah Irjen Ferdy Sambo Akan Segera Terungkap!

"Jadi, informasi soal autopsi dibuka, CCTV juga perlu dibuka," ucapnya.

Setelah itu, kata Sahroni, penyampaian informasi ke publik perlu dilakukan paling tidak setelah Polri menuntaskan sebuah tahapan.

"Jangan baru seperempat fase sudah konpers (konferensi pers, red). Dengan begini, informasi yang liar dan simpang siur di masyarakat bisa dihindari," ujar Ahmad Sahroni.

Baca Juga: Ferdinand Semprot Novel Baswedan Gegara Sebut Pimpinan KPK Paksakan Kasus Formula E: Sangat Memalukan

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan JPNN.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab JPNN.com.

Editor: Ayu Almas

Advertisement

Bagikan Artikel: