Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Tegas! Bos BI: Kebijakan Suku Bunga untuk Inflasi Inti

Tegas! Bos BI: Kebijakan Suku Bunga untuk Inflasi Inti Kredit Foto: Martyasari Rizky
Warta Ekonomi, Jakarta -

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan bahwa kebijakan moneter suatu negara, khususnya Indonesia didasarkan kepada inflasi inti dan pertumbuhan ekonomi.

"Memang luar negeri juga kita pertimbangkan, termasuk kenaikan Fed Fund Rate, tapi dasar utama kebijakan suku bunga didasarkan bagaimana perkiraan inflasi inti kedepannya, dan juga keseimbangan dengan pertumbuhan ekonomi," kata Perry dalam konferensi pers Hasil Rapat Berkala KSSK III Tahun 2022, Senin (1/8/2022).

Baca Juga: Sri Mulyani: Walau SSK Indonesia Masih Terjaga di Tengah Tekanan Ekonomi Global, Tetap Waspada!

Dengan demikian, tidak secara otomatis jika suku bunga negara lain naik, suku bunga Indonesia juga ikut naik. Perry menegaskan, semuanya tergantung pada kondisi di dalam negeri. 

"Kebijakan suku bunga bangsa didasarkan pada  proyeksi inflasi inti dan pertumbuhan ekonomi. Kenapa inflasi inti bukan Indeks Harga Konsumen (IHK)? Karena inflasi itu lah yang mencerminkan permintaan dan penawaran," ujarnya.

Jika dilihat inflasi yang ada saat ini, ia menambahkan, inflasi IHK adalah 4,94 persen, hal ini hampir sama dengan perkiraan BI untuk bulan Juli. "Kita perkirakan pada bulan Juli ini 4,89 persen. Kenapa inflasi IHK 4,94 persen? terutama karena inflasi harga pangan," imbuhnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa inflasi harga pangan pada bulan Juli adalah 11,47 persen (year on year/yoy). Hal ini dikarenakan adanya gangguan pasokan dari global, harga-harga pangan, juga faktor cuaca dan musiman di dalam negeri.

"Pemantauan kami di 46 kantor BI bahwa pasokan pangan bulan Agustus hingga akhir tahun akan meningkat. Pasokan bawang merah, cabai merah, cabai rawit, telur ayam, daging sapi, dan juga minyak goreng. Kami perkirakan inflasi makanan akan turun," ujarnya.

Sementara itu, inflasi inti yang mencerminkan kekuatan dari permintaan dan penawaran masih sangat rendah. "Bahkan lebih rendah dari perkiraan BI," imbuh Perry.

Pada bulan Juli, inflasi inti berada di angka 2,86 persen. Sebagaimana yang disampaikan oleh BI, angka tersebut lebih rendah dari yang diperkirakan BI, di angka 2,99 persen.

Baca Juga: Sudah Akui Tembak Brigadir J, Eh Ternyata Ajudan Ferdy Sambo Ini Masih Bertugas, Ternyata Gegara...

"Harap diingat, kebijakan suku bunga adalah untuk inflasi inti, yang pada bulan ini memang masih rendah. Inflasi IHK yang tinggi itu karena inflasi makanan," tegas Perry.

Baca Juga: Pembangunan KEK Kura-Kura Bali Diharapkan Dapat Mendukung Quality Tourism di Bali

Penulis: Martyasari Rizky
Editor: Aldi Ginastiar

Advertisement

Bagikan Artikel: