Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Polemik Indonesia Emas 2045: Bisakah Indonesia Menjadi Negara Adidaya Ekonomi Dunia?

Polemik Indonesia Emas 2045: Bisakah Indonesia Menjadi Negara Adidaya Ekonomi Dunia? Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Warta Ekonomi, Jakarta -

Sesuai dengan cita-cita bangsa dan visi Indonesia emas 2045, Presiden Indonesia, Joko Widodo mengharapkan Indonesia mampu menjadi negara adidaya ekonomi dunia di tahun 2045.

Menanggapi hal ini, Esther Sri Astuti selaku Direktur INDEF menyatakan bahwa saat ini, visi Indonesia emas 2045 nampaknya masih menuai banyak tantangan dan permasalahan.

"Saat ini Indonesia masih belum bisa keluar dari negara berpendapatan menengah, kita masih terjebak. Apalagi setelah terdampak pandemi dan diperparah dengan konflik geopolitik yang ada, seperti perang Rusia-Ukraina yang memengaruhi perekonomian kita,” terang Esther dalam konferensi pers berjudul Evaluasi Kinerja Ekonomi Triwulan II-2022: Bertahan di Tengah Ketidakpastian pada Minggu (7/8/2022).

Baca Juga: Jawara di Asia Tenggara, Indonesia Sumbang 40% Pangsa Ekonomi Digital ASEAN

Esther mengungkapkan bahwa pertumbuhan perekonomian Indonesia saat ini, terutama dalam triwulan II-2022 masih di dominasi oleh konsumsi rumah tangga. Dalam ranah ekspor, Indonesia perlu melakukan peningkatan nilai ekspor dengan melakukan hilirisasi industri. Karena jika dilihat saat ini, Indonesia masih melakukan ekspor komoditas di saat negara lain sudah mulai mengekspor barang value added.

Untuk mendukung peningkatan perkonomian di triwulan selanjutnya, Esther menekankan pada pengembangan digital ekonomi yang tidak kalah penting. Pengembangan digital ekonomi ini perlu dilakukan secara merata dan menyeluruh, terutama di desa supaya tidak terjadi ketimpangan pertumbuhan ekonomi dengan wilayah perkotaan.

Pemerintah harus mulai melakukan penggenjotan pengambangan digitial ekonomi untuk meningkatkan daya saing dan produktivitas ekonomi desa serta mengembangkan potensi desa sebagai sumber devisa baru yang dapat bersaing di pasar ekspor maupun e-commerce.

Pengembangan digital ekonomi di desa ini sangat perlu dilakukan sebab saat ini, berdasarkan data yang ada, Indonesia memiliki peluang yang sangat tinggi dalam ekonomi digital. Faktor pendorongnya berasal dari demografi Indonesia yang saat ini sekitar 270 juta penduduknya dalam usia muda dan merupakan pasar paling besar di Asia Tenggara yang menarik bagi perusahaan start-up.

Penetrasi internet Indonesia bahkan sudah mencapai angka 76.8% pada pertengahan tahun 2021. Hal ini disebabkan adanya pandemi yang mempercepat penggunaan dan adopsi digital terutama dalam transaksi uang elektronik.

“Jika pemerintah merasa tidak mampu menggenjot perekonomian dengan cara ini, maka sudah saatnya pemerintah melakukan kolaborasi dengan pihak perusahaan swasta atau independen di Indonesia,” ujar Esther.

Baca Juga: Airlangga Hartarto: Kartu Prakerja Dukung Visi Indonesia Emas 2045

Berdasarkan data dari Kementerian Sekretariat Negara RI, potensi digital ekonomi Indonesia diestimasi sebesar USD$146 miliar pada tahun 2025. Hal ini didorong dengan adanya perusahaan-perusahaan unicorns dan decadorn yang berada di Indonesia, seperti Gojek, J&T, Tokopedia, Bukalapak, Traveloka, OVO, dan JD.ID.

Namun tentu saja, akan ada tantangan dalam pelaksanaan pemerataan ekonomi digital di Indonesia. Salah satunya adalah penggunaan internet yang masih terfokus di pulau Jawa dan masih belum merata di pulau lainnya. Insfrastruktur di berbagai tempat di wilayah pelosok masih banyak yang belum memadai untuk melakukan digitalisasi. Rantai pasok produk di wilayah pedesaan juga maish terkendala sehingga tidak terintegrasi dengan ekonomi perkotaan. Selain itu juga disebabkan dengan lemahnya daya beli dan kurangnya literasi digital bagi masyarakat di pedesaan.

"Padahal peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat digenjot melalui sektor ekonomi digital yang dapat menjadi salah satu strategi bagi bangsa Indonesia untuk bertahan di tengah ketidakpastian serta mendorong pertumbuhan ekonomi menuju visi Indonesia emas 2045," pungkasnya. 

Baca Juga: Tidak Salahkan Penggunaan Gas Air Mata Oleh Polisi, IPW Sebut Sosok Ini yang Harus Bertanggung Jawab Atas Tragedi Kanjuruhan

Penulis: Tri Nurdianti
Editor: Annisa Nurfitriyani

Advertisement

Bagikan Artikel: