Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Showroom Furnitur SOUTH78 Jadi Venue dan Collateral Event Bintaro Design District

Showroom Furnitur SOUTH78 Jadi Venue dan Collateral Event Bintaro Design District Kredit Foto: Dok. Panpel

Dalam diskusi itu, salah satu desainer produk furnitur Eugenio Hendro menyoroti terkikisnya jumlah perajin lokal untuk furnitur di Tanah Air. Kata dia, banyak anak muda dari daerah perajin furnitur kini lebih senang bekerja di industri dibanding melestarikan kerajinan tradisional yang sudah membudidaya di tempat tinggalnya.

"Kita ke daerah Jepara saja, di sana kan terkenalnya ukiran. Coba tanya orang Jepara masih mau mengukir atau nggak, kemungkinan besar sudah nggak mau," kata Eugenio.

Menurut dia, masyarakat setempat sekarang lebih senang menggunakan teknologi laser untuk menciptakan sebuah karya seni kerajinan. Meski penggunaan teknologi ini dibebaskan, namun dia merasa nilai luhur dari kerajinan itu dapat memudar.

"Nilai dan jenis-jenis traditional craft (kerajinan tradisional) yang sebenarnya jadi nilai luhur bangsa atau cara orang memahami material yang ada di sekitarnya dengan membuat sesuatu, itu semakin ke sini semakin jarang dilakukan," ujar Eugenio jebolan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Contoh lainnya, kata Eugenio, para pemuda di Tulungagung, Provinsi Jawa Timur. Di sana banyak gunung marmer, namun jumlah perajin tradisional di sana tidak begitu banyak.

"Mereka lebih suka bekerja di perusahaan asing untuk bikin tile, dibandingkan memahat sendiri. Alasannya bukan karena mereka tidak bisa memahat, tapi di perusahaan mereka dibayar harian, memiliki pendapatan tetap dan lebih secure (aman)," imbuhnya.

Baca Juga: Dinilai Pilih Kasih, Acara Relawan Jokowi di Stadion GBK Dikecam, Yan Harahap: Ugal-ugalan

Halaman:

Editor: Vicky Fadil

Tag Terkait:

Advertisement

Bagikan Artikel: