Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Investor Tidak Yakin Bitcoin Bisa Jadi Lindung Nilai Inflasi

Investor Tidak Yakin Bitcoin Bisa Jadi Lindung Nilai Inflasi Kredit Foto: Kr-Asia
Warta Ekonomi, Jakarta -

Di tengah berbagai ancaman dan guncangan ekonomi secara global serta ketidakpastian pasar, Bitcoin (BTC) yang beberapa saat lalu mengalami penurunan nilai cukup signifikan dalam jangka waktu yang lumayan lama kini telah mulai mengalami peningkatan sebanyak 6% dalam seminggu terakhir ini dan masuk dalam kisaran level US$19.000.

Pasar kripto telah banyak dipengaruhi oleh lingkungan ekonomi makro yang dalam siklus pasarnya dipenuhi sentimen bearish. Begitu pun pada inflasi yang telah membuat bank sentral termasuk Federal Reserve AS mengejar kenaikan suku bunga agresif yang tentunya memberikan tekanan ke bawah pada harga aset berisiko dari saham hingga cryptocurrency.

Dilansir dari Cointelegraph pada Kamis (29/9/2022), sebuah data dari CoinMarketCap menunjukkan bahwa kapitalisasi pasar kripto global telah turun dari US$2,9 triliun pada November lalu menjadi US$959 miliar untuk saat ini.

Baca Juga: Pasar Masih Penuh Gejolak, Bitcoin Tetap Dominasi Total Pembayaran di BitPay

Pengumuman dari Bank of England pada Selasa mengenai mereka akan membeli obligasi setelah rencana pemotongan pajak pemerintah ternyata telah memicu aksi jual besar-besaran yang menyebabkan BTC rebound pada hari selanjutnya. Tidak hanya BTC, Ethereum (ETH) juga rebound di atas US$1.300 pada Rabu, naik 1,1% selama 24 jam terakhir dan 6,9% dalam seminggu terakhir.

Terkait hal ini, CEO Deiance ETF Sylvia Jablonski pada Rabu lalu mengatakan kepada CoinDesk TV bahwa menurutnya kripto hanya mengikuti tren yang sama dengan pasar dan itu hanya selera risiko murni karena volatilitas dan ketidakpastian yang terjadi saat ini.

Direktur riset pasar blockchain di Quantum Economics, Alexandre Lores memperkirakan persaingan tingkat inflasi antara BTC dan ETH akan terus berfluktuasi bolak-balik antara sekarang dan 2024. Ia mengatakan, dirinya tidak akan membeli narasi pembalikan tingkat inflasi BTC-ETH sampai rasio yang mengukur harg ETH relatif terhadap BTC memecahkan rekor tertinggi 0,15 seperti yang terjadi pada akhir 2017.

Baca Juga: Mengerikan! UMP DKI Jakarta 2023 Dibawah Angka Inflasi, Ekonom Beberkan Era Heru Budi yang Disebut Bakal Tunduk Oligarki

Penulis: Tri Nurdianti
Editor: Rosmayanti

Tag Terkait:

Advertisement

Bagikan Artikel: