Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Belajar Berempati, Anak Harus Diajarkan Sosial Emosional Sedini Mungkin

Belajar Berempati, Anak Harus Diajarkan Sosial Emosional Sedini Mungkin Kredit Foto: Antara/Aprillio Akbar
Warta Ekonomi -

Psikolog pendidikan Rosa Virginia Kartikarini mengatakan, sosial emosional perlu diajarkan kepada anak sedini mungkin karena akan sangat bermanfaat bagi kehidupan anak di masa depan.

"Anak perlu mempelajari (sosial emosional) sedini mungkin. Dari anak lahir, balita, lalu TK, SD, SMP, SMA, yang dampaknya bisa terasa waktu dia kuliah, kerja, bahkan sampai dia berkeluarga," kata Rosa dalam webinar "Pahami Hubungan Kesehatan Pencernaan dan Emosional Anak Sedari Dini" yang diikuti di Jakarta, Jumat (7/10/2022).

Ia menjelaskan, dengan mempelajari sosial emosional, anak akan belajar melihat apa yang ada dalam dirinya, belajar cara mengelola emosi, belajar berempati dan peduli terhadap orang lain, menyelesaikan masalah, dan mengambil keputusan.

"Pada akhirnya, dia bisa menjalin relasi yang sehat dengan diri sendiri dan orang lain, dan membuatnya lebih terkoneksi dengan lingkungannya," imbuh Rosa yang tergabung dalam Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) itu.

Dalam mengajarkan sosial emosional pada anak, Rosa mengatakan ada lima hal yang perlu ditekankan yaitu self-awareness (kesadaran diri), self-management (pengaturan diri), social awareness (kesadaran sosial), relationship skill (keterampilan dalam berelasi), dan responsible decision making (membuat keputusan bertanggung jawab). Ia menjelaskan, self-awareness merupakan kemampuan anak dalam memahami emosi yang dia rasakan.

"Jadi misalnya saat anak sedih, orang tua bisa membantu, bilang 'oh adek lagi sedih, ya', atau kalau lagi seneng bilang 'oh adek seneng ya karena nilainya bagus', Ini akan membantu mereka menamakan emosi dan itu salah satu bagian dari self-awareness," katanya.

Ia menambahkan, kesadaran diri juga termasuk bagaimana anak menyadari kelebihan dan kekurangannya, termasuk bakat dan hal-hal yang dia senangi. Mengenai self-management, Rosa mengatakan hal ini merupakan kemampuan untuk mengatur atau mengelola emosi, pikiran, dan perilaku dengan efektif pada situasi yang berbeda. Dalam hal ini termasuk kemampuan anak dalam menunda keinginannya, mengolah stres, dan merasa termotivasi.

Untuk mewujudkannya, beberapa contoh yang Rosa rekomendasikan di antaranya membuat perencanaan jadwal, mengatur jadwal belajar dan bermain, dan melakukan hal-hal yang bisa membuat anak termotivasi untuk belajar.

Sedangkan social awareness dikatakan Rosa merupakan kemampuan anak memahami perspektif dan perasaan orang lain, sehingga anak memiliki rasa empati dan jiwa toleransi.

"Ini juga termasuk dengan kapasitas berbuat baik pada orang lain, sesimpel meminjamkan pensil atau menghibur temannya yang sedih," katanya.

Terkait relationship skill, Rosa mengatakan hal ini merupakan kemampuan untuk membangun dan memelihara hubungan yang sehat dengan orang lain. Anak harus mampu berkomunikasi dengan jelas, mendengarkan secara aktif, bekerja sama, hingga menegosiasikan konflik dengan jelas.

Hal tersebut, kata dia, dapat diwujudkan dengan mendorong anak agar mau berbicara dengan teman, orang tua, guru, bahkan orang yang baru dikenalkan. Anak juga harus diajarkan untuk mau mengungkapkan pendapatnya, serta berani meminta maaf jika melakukan kesalahan.

Terakhir, mengenai responsible decision making, Rosa mengatakan, hal ini merupakan kemampuan untuk mengambil keputusan sesuai dengan situasi yang terjadi, dengan mempertimbangkan konsekuensi baik pada diri sendiri maupun orang lain.

"Misalnya, saat buat jadwal harian, dia bilang 'aku mau main game-nya lima jam'. Sebagai orang tua, kita bisa tanya, 'kalau kamu main game lima jam, apa yang akan terjadi?'. Jadi kita mengajak anak melihat konsekuensinya atau kenapa, sih, dia memilih itu? Biar keputusan yang diambil memang bertanggung jawab dan dia tahu konsekuensinya," kata Rosa.

Baca Juga: Restrukturisasi Kredit Diperpanjang, OJK Desak Perbankan Perkuat Mitigasi Risiko

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Editor: Boyke P. Siregar

Tag Terkait:

Advertisement

Bagikan Artikel: