Kredit Foto: Sufri Yuliardi
AHY mengaku punya kedekatan dengan Anies. Ia lalu memuji Anies yang dianggap telah berhasil mewujudkan visi besarnya sebagai Gubernur DKI Jakarta. AHY mengaku melihat langsung bagaimana Jakarta bertransformasi. “Kita semua merasakannya,” katanya.
Mungkinkah duet Anies-AHY yang kini banyak didorong-dorong bakal berjalan mulus hingga 2024? Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedy Kurnia Syah mengatakan, peluang duet Anies-AHY memang terbuka. Persoalannya, belum tentu NasDem setuju kalau cawapresnya adalah AHY.
Kalau tak setuju, sulit bagi pasangan ini mendapat tiket capres. Selain itu, Dedy menilai pasangan ini mempunyai basis pemilih yang sama.
Sehingga sulit untuk menarik massa yang lebih besar. Menurut Dedy, yang diperlukan oleh Anies adalah karakter cawapres yang punya peluang berbeda dari dirinya. Contoh, kelompok yang punya kekuatan logistik sekaligus punya kekuatan elektabilitas dan popularitas. Sebut saja misalnya, Erick Thohir atau Sandiaga Uno.
Selain dua contoh tersebut, bisa saja Anies menggandeng cawapres dari kelompok-kelompok yang memang punya karakter ketokohan setara dengan mereka. Menurut dia, AHY masih muda dan belum memiliki kapasitas pengalaman.
Namun, bila Anies enggan menarik AHY sebagai pasangannya, maka peluang Demokrat untuk mengusungnya juga makin kecil. Sebab, Demokrat sampai saat ini masih ngotot mengusung AHY sebagai capres maupun cawapres. Padahal tanpa Demokrat, Anies tidak bisa nyapres kalau hanya andalkan koalisi NasDem dan PKS.
“Kecuali bila akhirnya Demokrat tulus ikhlas tetap mengusung Anies meskipun AHY tak jadi cawapresnya,” pungkas Adi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Fajria Anindya Utami
Tag Terkait:
Advertisement