Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Nyayur Banget, Untung Anak Usaha Astra di Bidang Tambang Alat Berat Meroket 103%

Nyayur Banget, Untung Anak Usaha Astra di Bidang Tambang Alat Berat Meroket 103% Kredit Foto: Ist
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT United Tractors Tbk (UNTR) membukukan pendapatan bersih sebesar Rp91,5 triliun atau naik sebesar 58% dari Rp57,8 triliun pada periode yang sama tahun 2021. 

Seiring dengan peningkatan pendapatan bersih, laba bersih Perseroan meningkat 103% menjadi Rp15,9 triliun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp7,8 triliun.

“Segmen usaha memberikan kontribusi paling besar sebesar kontraktor pertambangan 36% terhadap pendapatan perusahaan. Kemudian, disusul oleh mesin konstruksi 30%, pertambangan batu bara 27%, petambangan emas 6%, dan industri konstruksi 1%,” kata Sekretaris Perusahaan United Tractors, Sara Lubis, dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (8/11/2022).

Baca Juga: Pendapatan Premi Tumbuh, Astra Life Catat Kenaikan Total Aset Jadi Rp7,5 Triliun

Di mana segmen mesin konstruksi mencatat peningkatan penjualan alat berat Komatsu sebesar 107% menjadi 4.534 unit dibandingkan tahun lalu sebesar 2.194 unit. Penjualan UD Trucks mengalami penurunan dari 340 unit menjadi 331 unit, dan penjualan produk Scania turun dari 471 unit menjadi 152 unit. Penurunan penjualan pada kedua merek tersebut disebabkan oleh adanya kendala pasokan produk. Secara total, pendapatan bersih dari segmen usaha Mesin Konstruksi meningkat sebesar 74% menjadi Rp27,4 triliun dibandingkan pada periode yang sama tahun 2021.

Adapun, segmen usaha Kontraktor Penambangan dioperasikan oleh PT Pamapersada Nusantara (PAMA) hingga September 2022 membukukan pendapatan bersih sebesar Rp33,2 triliun, naik 37% dari Rp24,2 triliun. PAMA mencatat penurunan volume produksi batu bara sebesar 5% dari 88 juta ton menjadi 83 juta ton, dan peningkatan volume pekerjaan pemindahan tanah (overburden removal) sebesar 10% dari 630 juta bcm menjadi 691 juta bcm, dengan rata-rata stripping ratio sebesar 8,3x meningkat dari 7,2x.

Dari usaha Pertambangan Batu Bara dijalankan oleh PT Tuah Turangga Agung (TTA) per September memperoleh penjualan batu bara mencapai 7,8 juta ton, termasuk 1,6 juta ton batu bara metalurgi, atau sedikit meningkat apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2021 sebesar 7,7 juta ton. Didorong dengan meningkatnya rata-rata harga jual batu bara, pendapatan segmen usaha Pertambangan Batu Bara meningkat sebesar 138% dibandingkan periode yang sama di tahun 2021 menjadi Rp24,4 triliun.

Untuk segmen usaha Pertambangan Emas dijalankan oleh PT Agincourt Resources (PTAR) yang mengoperasikan tambang emas Martabe di Sumatera Utara di kuartal III mencatat penjualan setara emas dari Martabe mencapai 216 ribu ons, turun 16% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2021 sebanyak 258 ribu ons, karena adanya penurunan kadar emas yang ditambang. Pendapatan bersih segmen usaha Pertambangan Emas turun 11% dari Rp6,5 triliun menjadi Rp5,8 triliun. Rata-rata harga jual emas pada triwulan ketiga tahun 2022 sebesar USD1.826 per ons meningkat sebesar 4% dari USD1.750 per ons.

Di segmen usaha Industri Konstruksi dijalankan oleh PT Acset Indonusa Tbk (ACSET), sampai dengan bulan September 2022 membukukan pendapatan bersih sebesar Rp729 miliar, dari sebelumnya sebesar Rp1,1 triliun pada periode yang sama tahun 2021. ACSET membukukan rugi bersih sebesar Rp227 miliar, turun dibandingkan rugi bersih pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp386 miliar. Kerugian bersih terutama disebabkan oleh perlambatan beberapa proyek yang sedang berlangsung dan berkurangnya kontrak baru.

Sementara itu, sejalan dengan strategi pengembangan usaha di sektor energi yang ramah lingkungan, Perseroan telah menetapkan bisnis Energi Baru dan Terbarukan sebagai salah satu strategi transisi Perseroan. Untuk mempercepat pengembangan EBT, pada akhir tahun 2021 seluruh bisnis energi dalam grup dikonsolidasikan melalui PT Energia Prima Nusantara (EPN). Sampai dengan bulan September 2022, EPN telah memasang Rooftop Solar PV mencapai 5,2 MWp dan 837 kWp sedang dalam proses instalasi.

Baca Juga: Laba ACSET Turun 41% Hingga Kuartal III-2022

Perseroan saat ini mengoperasikan satu pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTM) yaitu PLTM Kalipelus berkapasitas 0,5 MW di Jawa Tengah, dan sedang membangun pembangkit listrik tenaga minihidro lainnya yakni PLTM Besai Kemu di Lampung, Sumatra. PLTM Besai Kemu memiliki kapasitas sebesar 7 MW dan diperkirakan akan beroperasi pada tahun 2023. Selain itu, Perseroan juga menargetkan beberapa proyek pembangkit listrik tenaga minihidro di area Sumatra dengan total potensial kapasitas lebih dari 20 MW.

Pada bulan Agustus 2022, Perusahaan melalui anak usaha melakukan investasi pada PT Arkora Hydro Tbk (Arkora) dengan kepemilikan saham sebesar 31,49%. Arkora saat ini mengoperasikan dua PLTM, yaitu PLTM Cikopo 2 di Jawa Barat dengan kapasitas 7,4 MW dan PLTM Tomasa 10 MW di Sulawesi Selatan. Arkora juga sedang membangun dua PLTM, yaitu PLTM Koro Yaentu berkapasitas 10 MW dan PLTM Kukusan 2 berkapasitas 5,4 MW yang masing-masing diperkirakan akan beroperasi pada tahun 2023 dan 2024. Setelah kedua PLTM ini beroperasi nanti, Arkora akan memiliki pembangkit listrik dengan total kapasitas terpasang sebesar 32,8 MW.

Perseroan juga berencana melakukan pengembangan proyek energi terbarukan lainnya seperti hydropower, solar PV, geothermal, wind power dan waste-to-energy. Proyek-proyek ini konsisten dengan strategi Perseroan untuk meningkatkan kompetensi di berbagai potensi energi terbarukan dalam rangka mencapai portofolio bisnis yang berkelanjutan.

Pada tanggal 12 Juli 2022, Perseroan menyampaikan keterbukaan informasi tentang pembelian kembali saham dengan nilai sebanyak-banyaknya sebesar Rp5 triliun. Selanjutnya pada tanggal 11 Oktober 2022, Perseroan mengumumkan kembali mengenai perpanjangan periode pembelian kembali saham selama 3 (tiga) bulan ke depan.

Baca Juga: Meriahkan Bulan Bahasa Bali V, Desa Dangin Puri Kangin Gelar Berbagai Lomba

Penulis: Annisa Nurfitriyani
Editor: Annisa Nurfitriyani

Advertisement

Bagikan Artikel: