Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Government
Video
Indeks
About Us
Social Media

Biar Nggak Tergerus Inflasi, Begini Caranya Menyiapkan Dana Pendidikan buat Anak

Biar Nggak Tergerus Inflasi, Begini Caranya Menyiapkan Dana Pendidikan buat Anak Kredit Foto: Unsplash/Avel Chuklanov
Warta Ekonomi, Jakarta -

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa inflasi sektor pendidikan di Indonesia mencapai 3,81% dan kenaikan rata-rata uang masuk sekolah dan universitas berkisar 10-15% per tahunnya. Diperkirakan dalam kisaran 10 tahun ke depan, biaya pendidikan anak akan naik sekitar 1,5 kalinya dan 20 tahun kemudian bisa naik hingga lebih dari 2 kali lipatnya. 

Hal tersebut pasti terasa kurang menyenangkan bagi orang tua karena saat ini saja biaya sekolah sudah sangat tinggi dan proses seleksi masuk sekolah juga semakin ketat. Jika inflasi pendidikan terus naik, apakah nantinya orang tua akan sanggup membiayai pendidikan anak hingga pendidikan tinggi? Baca Juga: Astra Akselerasi Pendidikan di Daerah Serambi Ibu Kota Negara Nusantara

Idealnya bagi orang tua yang sudah memiliki anak atau berencana punya anak maka saat menikah sudah harus mempersiapkan rencana dana pendidikan. Mempersiapkan dana pendidikan adalah bagian dari perencanaan keuangan masa depan sehingga dengan pendapatan yang ada, kita bisa mencukupi kebutuhan saat ini sekaligus mempersiapkan dan mengamankan keperluan masa depan termasuk dana pendidikan.

Sebelum memilih instrumen dana pendidikan perlu memperhitungkan berapa jumlah dana yang akan dibutuhkan berdasarkan sekolah mana yang ingin dituju sehingga memudahkan Anda menentukan instrumen mana yang tepat untuk meningkatkan nilai aset saat ini. 

Bagi Anda yang mempertimbangkan menyiapkan dana pendidikan, saran dari Faculty Head of Sequis Training Academy of Excellence, Samuji, MPD, CFP, CPC, Anda bisa memilih asuransi pendidikan. Pada instrumen asuransi pendidikan, perusahaan asuransi akan mengelola premi yang Anda bayarkan untuk menyiapkan perlindungan berupa Uang Pertanggungan (UP) jika terjadi risiko meninggal dunia pada orang tua sebagai Tertanggung.

"Jika risiko meninggal dunia terjadi pada Tertanggung maka polis akan tetap aktif sebab perusahaan asuransi yang akan meneruskan pembayaran premi sampai masa pembayaran premi selesai," ujarnya di Jakarta, Sabtu (22/7/2023).

Dalam asuransi pendidikan juga ada dana pendidikan yang akan cair pada periode tertentu meski tertanggung meninggal dunia. Dana pendidikan yang cair secara berkala ini, jumlahnya sesuai dengan yang tercantum pada polis. Nantinya bisa dimanfaatkan untuk mendukung menyiapkan dana pendidikan

"Itu sebabnya, estimasi kebutuhan perlu dilakukan sebelum membuka polis asuransi pendidikan agar dana pendidikan yang cair sesuai dengan peruntukannya," tambahnya.

Apakah asuransi pendidikan sama dengan tabungan pendidikan? Samuji mengatakan keduanya dapat dimanfaatkan untuk menyiapkan dana pendidikan. Perbedaannya adalah asuransi pendidikan mengandung perlindungan finansial bagi anggota keluarga jika terjadi risiko kematian pada Tertanggung. Baca Juga: Bangun Ruang Pintar di Sekolah Garut, PNM Tunjukkan Komitmen Mendorong Digitalisasi Pendidikan

Sedangkan pada tabungan pendidikan, bila risiko kematian terjadi maka masa menabung akan selesai dan dana yang terkumpul akan diserahkan kepada ahli waris dan bank tidak memiliki kewajiban menyantuni atau meneruskan tabungan. 

Menyambut momen Hari Anak Nasional pada 23 Juli, Samuji mengingatkan agar orang tua perlu segera menyiapkan dana pendidikan sedini mungkin karena jumlahnya tidak sedikit. “Kondisi keuangan dapat berbeda pada masa depan termasuk risiko hidup, dan berapa banyak kebutuhan yang terus meningkat yang harus dipenuhi pembiayaannya. Jangan sampai dana pendidikan tidak cukup dan harus berutang atau menurunkan standar hidup. Orang tua harus berusaha menyediakan dana tersebut karena pendidikan adalah jembatan menuju masa depan anak yang lebih baik,” tutup Samuji.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Fajar Sulaiman

Advertisement

Bagikan Artikel: