Kredit Foto: Istimewa
Mobilitas masyarakat urban yang tinggi menempatkan hub transportasi umum (seperti stasiun KRL, MRT, LRT, halteTransJakarta, hingga bandara) menjadi titik krusial dalam keseharian. Fenomena ini melahirkan ruang vertikal baru bagi industri periklanan dan komunikasi yang dikenal sebagai Transit & Mobility Media.
Media di sektor transportasi ini tidak sekadar menjadi papan iklan statis biasa, melainkan bertransformasi menjadi experiential media yang menggunakan teknologi digital (Digital Out-of-Home), integrasi data mobilitas, hingga programmatic ads. Media ini juga memiliki keunggulan unik, yaitu captive audience yang tinggi dengan waktu tunggu (dwell time) yang lama.
PT Kereta Api Indonesia (KAI) melalui KAI Wisata telah mengelola ekosistem media yang sangat luas, mencakup aset-aset strategis di 9 Daerah Operasi (Daop) dan 4 Divisi Regional (Divre) di seluruh Indonesia.
Menurut Raden Agus Dwinanto Budiadji, Direktur Utama KAI Wisata, pada acara KAI Media & Brand Experience Summit 2026, yang digelar hari ini (10/6), di Jakara, saat ini, KAI memiliki total aset seluas 270 juta meter persegi yang tersebar di 629 stasiun sepanjang 6.957 KM jalur kereta api. Seluruh aset ini kini dipasarkan secara digital.
“Sebagai anak usaha KAI, kami memaksimalkan aset-aset ini, mulai dari stasiun besar hingga rangkaian kereta, sebagai media branding yang menjangkau lebih dari 430 juta penumpang setiap tahunnya,” tutur Agus Dwinanto.
Lebih jauh ia menjelaskan, media KAI memiliki keunggulan yang tidak dimiliki media luar ruang (OOH) lainnya, yaitu “captive audience” dengan “dwell time” (waktu tunggu) yang tinggi.
Penumpang menghabiskan waktu signifikan di area stasiun mulai dari proses registrasi, menunggu di peron, hingga selama durasi perjalanan di dalam kereta. Hal itu memastikan paparan kampanye brand terjadi secara berulang dan mendalam. Ini berbeda dengan baliho jalan raya yang seringkali hanya terlihat sepintas lalu oleh pengendara yang melintas.
“Keunggulan utama kami terletak pada ekosistem mobilitas yang terintegrasi. Media KAI tidak hanya memberikan visual, tetapi juga pengalaman (brand experience) yang menyeluruh. Kampanye dapat ditempatkan di titik-titik krusial perjalanan konsumen, mulai dari stasiun keberangkatan hingga di dalam rangkaian kereta yang sedang bergerak, menciptakan pesan yang ‘ikut berpindah’ bersama audiens. Pendekatan ini memberikan durasi paparan yang jauh lebih panjang dan frekuensi yang lebih tinggi dibandingkan media luar ruang konvensional,” papar Agus.
Baca Juga: Masih Rawan, Investasi Keselamatan di Perlintasan Kereta Api Bisa Pangkas Kerugian Ekonomi
Sejumlah mitra telah membuktikan efektivitas Transit & Mobility Media dari KAI. Kahf (ParagonCorp) misalnya, telah berhasil memenangkan atensi audiens melalui strategi Transit & Mobility Media yang tepat sasaran, mencapai peningkatan brand awareness yang signifikan di segmen young adult.
Selanjutnya, PT Pixel Promosindo (Pixel Group) sebagai mitra strategis KAI Wisata, mereka telah sukses mengintegrasikan media branding di ekosistem KAI untuk meningkatkan publisitas merek secara masif dan terukur di berbagai titik sentuh penumpang.
Selain itu, ada Aset Heritage KAI Wisata, yang telah berhasil memanfaatkan destinasi ikonik seperti Ambarawa dan Lawang Sewu, serta Kereta Wisata (Luxury Trains) sebagai ruang aktivasi merek premium dan eksklusif yang memberikan kesan mendalam bagi konsumen.
Ekosistem KAI Group juga menawarkan model kolaborasi tingkat tinggi yang melampaui konsep media konvensional. Dijelaskan Agus, model kolaborasi yang tersedia sangat beragam dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan strategi pemasaran setiap brand.
Pertama, model kolaborasi Naming Rights (Hak Penamaan), yakni stasiun dan kereta kini dapat menggunakan nama brand mitra, memberikan eksposur permanen dalam sistem informasi perjalanan dan peta rute. Ini menciptakan asosiasi kuat antara brand dengan mobilitas harian jutaan penumpang.
Kedua, Branding Trainset (LRT & Commuter), yakni pemanfaatan badan kereta (wrapping) pada LRT Jabodebek dan rangkaian kereta lainnya menjadi media iklan berjalan yang sangat efektif menjangkau komuter di area urban dengan frekuensi tinggi setiap harinya.
Ketiga, model kolaborasi berupa Penyediaan Ruang Aktivasi & Showcase di stasiun-stasiun strategis untuk pengalaman brand langsung yang interaktif.
Keempat, Pemanfaatan Layanan MICE dan manajemen destinasi berbasis perkeretaapian, menghadirkan event premium yang terintegrasi dengan pengalaman perjalanan kereta api. Dijelaskan Agus, model kolaborasi yang tersedia sangat beragam dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan strategi pemasaran setiap brand.
“Untuk itu, kami mengundang para pemilik merek untuk tidak hanya melihat aset kami sebagai ruang iklan, tetapi sebagai mitra tumbuh bersama. Harapan kami, pemilik merek dapat memanfaatkan portal digital yang telah kami sediakan untuk membangun kepercayaan instan dan mempermudah kolaborasi bisnis yang lebih transparan dan personal. Dengan pendekatan ini, kami berkomitmen untuk menciptakan nilai bersama yang berkelanjutan bagi semua pihak,” tutupnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Istihanah
Editor: Istihanah
Tag Terkait: