Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Government
Video
Indeks
About Us
Social Media

Pemilu di Depan Mata, Apakah Sektor Industri dan Ritel Akan Melambat?

Pemilu di Depan Mata, Apakah Sektor Industri dan Ritel Akan Melambat? Kredit Foto: Unsplash/Ganda Lukman
Warta Ekonomi, Jakarta -

2024 akan menjadi tahun yang sangat krusial bagi Indonesia. Pasalnya, pada tahun tersebut Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) akan digelar secara serentak. Lantaran terjadi pemindahan kekuasaan pada tahun tersebut, banyak isu beredar bahwa pada tahun tersebut sektor-sektor ekonomi akan mengalami perlambatan. Salah satunya sektor yang dikhawatirkan adalah industri dan ritel.

Director Strategic Consultancy Knight Frank Indonesia, Sindiani Adinata menilai kekhawatiran akan sektor industri dan ritel tidak perlu dipikirkan. Pasalnya, berdasarkan data historis, ia melihat justru pada saat terjadi Pemilu maupun Pilkada, kedua sektor tersebut akan mendapatkan dampak positif yang signifikan.

“Prospek untuk industri atau sektor properti ritel dan kawasan industri terkait adanya tahun Pemilu, kalau dari hasil research kita, dari historical evidence, baik sektor ritel maupun sektor kawasan industri justru mereka tidak slow down (melambat) pada saat Pemilu. Karena apa? Dari data historis pada saat terjadinya presidential election, dari lima tahun ke lima tahun berikutnya, selalu berlangsung aman,” ujarnya dalam Konferensi Pers Jakarta Property Highlight H1 2023 (Retail and Industrial Sectors), Kamis (7/9/2023).

Baca Juga: Habis Gelap Terbitlah Terang, Kebijakan Baru China Bantu Sektor Industri Pulih Kembali

Sindi lalu membeberkan bahwa lima tahun lalu, yakni pada tahun 2019 yang juga tahun Pemilu dan Pilkada serentak, penyerapan kawasan industrinya justru lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yakni tahun 2018.

Transfer power itu selalu berlangsung aman. Sehingga, cukup menjadi modal untuk investor bahwa di Indonesia relatif aman. Yang terjadi justru kalau kita bandingkan tingkat penyerapan kawasan industri yang terjadi di tahun 2018 dibandingkan waktu Pemilu di tahun 2019, itu justru meningkat,” bebernya.

Selain itu, ia juga menekankan bahwa kawasan industri tidak bisa langsung berhenti bertumbuh karena faktor Pemilu saja. Hal ini karena perjanjian-perjanjian untuk bisnis di sektor industri cenderung memakan waktu lebih dari satu tahun.

Kedua, juga untuk deal-deal penjualan lahan kawasan industri butuh waktu yang tidak sedikit. Kalau bisa deal satu tahun saja sudah sangat bagus, tapi kalau untuk lahan-lahan besar, satu tahun saja tidak cukup. Jadi, untuk kawasan industri perlu pertimbangan besar, tidak bisa dipatahkan karena faktor Pemilu saja,” tuturnya.

Sementara itu, untuk sektor ritel, Sindi berpendapat, akan mengalami pertumbuhan lantaran pada saat sedang terjadi Pemilu maupun Pilkada, nilai konsumsi pribadi akan meningkat. Akan ada banyak pertemuan yang diadakan oleh partai politik maupun pemerintah yang akan meningkatkan permintaan barang dan jasa, sehingga dapat mendorong roda ekonomi bertumbuh. 

“Bagaimana dengan sektor ritel? Ritel justru akan menikmati pertumbuhan private consumption dari merchandise Pemilu, untuk Pilpres, kemudian ruang-ruang meeting di hotel juga akan penuh karena akan ada rapat-rapat dari partai politik dan sebagainya. Jadi, itu justru roda ekonomi akan berputar, itu akan contribute di pertumbuhan sektor ritel dan kawasan industri,” tutupnya.

Baca Juga: Perkembangan Bisnis Ritel Semakin Baik, Kinerja Keuangan Erajaya Group Meroket

Baca Juga: Konsisten dalam Pengembangan Energi Baru Terbarukan, Pertamina Group Ini Gaet Penghargaan IGA 2024

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ni Ketut Cahya Deta Saraswati
Editor: Rosmayanti

Tag Terkait:

Advertisement

Bagikan Artikel: