Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Government
Video
Indeks
About Us
Social Media

Usaha F&B Semakin Menjanjikan, Sour Sally: Tiga Fase Bisnis Ini Jadi Kuncinya

Usaha F&B Semakin Menjanjikan, Sour Sally: Tiga Fase Bisnis Ini Jadi Kuncinya Ilustrasi: Wafiyyah Amalyris K
Warta Ekonomi, Jakarta -

Perkembangan usaha Food and Bakery (F&B) di Indonesia telah mengalami pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Industri F&B terus berkembang dan menjadi salah satu sektor yang menjanjikan bagi pengusaha.

Donny Pramono, Founder Sour Sally Group, mengatakan bahwa sebagai salah satu pengusaha F&B  di Indonesia, bisnis F&B harus mampu melakukan terobosan agar bisnis mereka berkembang pesat, termasuk juga omzetnya.

“Omzet Sour Sally di tahun kelima mengalami kemerosotan hingga 10% dibanding tiga tahun pertama. Saat awal berdiri Sour Sally sempat viral dan selang tiga tahun kemudian meredup. Alhasil usaha ini diambang kebangkrutan,” ucap Donny Pramono, dikutip dari kanal Youtube Dr Indrawan Nugroho pada Senin (9/10/2023).

Baca Juga: IDM Hadirkan Kemudahan Wirausaha, Teten Masduki: Mulai Bisnis Sepertinya Cukup Ide Aja

Menurut Donny, merosotnya omzet Sour Sally membuatnya belajar dan menjadikan pengalaman yang berharga bahwa inovasi dan unique selling memang sangat diperlukan terlebih dengan seiringnya perkembangan zaman dan kemajuan teknologi.

“Dari sinilah, saya menyadari bahwa bisnis F&B memiliki tiga fase penting, yaitu fase viral, fase lifestyle, dan fase budaya,” ujar Donny.

Donny menyebut dalam fase viral, bisnis F&B yang hanya mengandalkan keviralan tanpa melakukan inovasi, maka bisnis tersebut tidak akan bertahan lama. Mengingat sebelumnya omzetnya turun hingga 90% di tahun 2011-2013 membuat dia pun melakukan upaya terobosan hingga masuk ke fase lifestyle.

“Fase lifestyle sebagai fase di mana bisnis F&B berusaha menjadikan brand-nya sebagai habbit dari para konsumen. Maksudnya para pengusaha F&B ini tidak hanya bergantung pada viralitas, tetapi juga memastikan produk mereka bukan hanya berkualitas, tetapi juga bermanfaat sehingga membuat konsumen membeli produknya dan menjadikannya kebiasaan. Hal ini membuat bisnis F&B dapat berkelanjutan dan menjadi pilihan konsumen secara konsisten,” lanjut Donny.

Terakhir fase budaya, Dony menjelaskan bahwa fase budaya adalah tahap di mana bisnis F&B menjadi bagian dari budaya dari negara tersebut. 

“Contoh nyatanya Jepang. Bila kita mendengar negara Jepang, identik dengan makanan, masyarakat pasti langsung teringat dengan ramen dan sushi. Begitu pula dengan Korea Selatan, orang pasti langsung teringat kimchi,” tukas Donny.

Donny menyebut dalam bisnis F&B dengan produk yang memiliki keunikan dan sedikit berbeda, tapi dibuat dengan baik, maka akan mengalahkan produk lainnya. Konsumen pun akan teringat, bukan hanya rasanya, namun juga manfaatnya.

Baca Juga: Kisah Sukses PT Sriboga Raturaya: Dari Produksi Tepung hingga Kuasai Dunia F&B

Baca Juga: TKD Prabowo-Gibran Kalem meski Unggul di Bali, De Gadjah: Biar Ngga Ada Ricuh

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Naeli Zakiyah Nazah
Editor: Rosmayanti

Tag Terkait:

Advertisement

Bagikan Artikel: