Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Government
Video
Indeks
About Us
Social Media

Makin Mujur Ekonomi dan Teknologinya, Tiongkok Dicurigai AS

Makin Mujur Ekonomi dan Teknologinya, Tiongkok Dicurigai AS Kredit Foto: Reuters/Florence Lo
Warta Ekonomi, Jakarta -

Bangkit sebagai kekuatan ekonomi baru dunia, Produk Domestik Bruto (PDB) Tiongkok tumbuh dua digit dari tahun ke tahun, sebuah prestasi yang jarang dialami oleh negara-negara lain.

Terbukti pada tahun 1990, Bank Dunia mencatat PDB Tiongkok di angka 360 miliar dolar AS. kemudian pada tahun 2000 kembali meningkat menjadi 1,2 triliun dolar AS. Terakhir, pada tahun 2019, PDB Tiongkok sudah menyentuh angka 14 triliun dolar AS. Pencapaian ini membuat Tiongkok memiliki kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat (AS).

"Kita semua dulunya melihat Tiongkok hanya sebagai negara pabrik yang memproduksi barang-barang teknologi tinggi untuk perusahaan-perusahaan di Amerika. Namun, perlahan-lahan mereka bergeser dari posisi tersebut menjadi negara produsen,"ujar Dr. Indrawan Nugroho dalam kanal YouTubenya, Selasa (17/10/2023).

Baca Juga: Persaingan Sengit Antara AS dan China dari Perang Dingin hingga Teknologi

"Mereka merintis pembangunan perusahaan yang unggul dalam teknologi seperti teknologi robot dan mobil listrik dengan inisiatif "Made in China 2025." Mereka fokus pada riset dan pengembangan di berbagai aspek, serta memberikan subsidi kepada perusahaan-perusahaan yang dirintis," lanjut Indrawan.

Meskipun begitu, ternyata subsidi tersebut dipersoalkan oleh Amerika, yang menilai bahwa subsidi tersebut tidak adil. Di bawah pimpinan Presiden Donald Trump, AS menganggap bahwa subsidi pemerintah Tiongkok melanggar peraturan perdagangan internasional.

Selain itu, AS juga mencurigai perusahaan-perusahaan teknologi Tiongkok melakukan misi spionase. Perang dagang dan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan Tiongkok seperti ZTE dan Huawei pun tidak lepas dari itu.

Di sisi lain, Tiongkok menganggap tindakan AS sebagai proteksionisme yang bertujuan mencegah Tiongkok menjadi pemimpin teknologi global. "Mereka membalas dengan membatasi perusahaan-perusahaan AS di Tiongkok. Pertarungan ini semakin sengit di era pemerintahan Joe Biden, yang mengontrol ekspor chip ke Tiongkok untuk mencegah Tiongkok memperoleh chip AI canggih dari AS," tutur Indrawan.

Lantaran pencegahan yang dilakukan AS, Tiongkok pun berusaha mengembangkan chip AI buatan sendiri, seperti melalui Huawei yang meluncurkan telepon cerdas terbaru mereka, Mate 60 Pro dengan chip Kirin 9000.

"Hal ini membuat AS khawatir, karena Huawei sebelumnya adalah pelanggan utama Qualcomm. AS juga gusar saat mengetahui bahwa Mate 60 Pro menggunakan memory chip LPDDR5 buatan SK Hynix, perusahaan Korea Selatan," tutur Indrawan.

Baca Juga: Jokowi Puji Investasi China ke Indonesia Bak Jurus Bruce Lee, Cepat dan Tepat!

Akibat peluncuran chip AI Huawei, tuduhan kembali muncul dari AS yang menyebut Huawei mencuri teknologi mereka. Pertarungan dua adidaya ini pun berdampak pada bisnis teknologi global yang menjadi tidak pasti dan hubungan antara AS dan Tiongkok kini berada di titik kritis.

Baca Juga: Kominfo Ajak Masyarakat Waspadai Jeratan Investasi dan Pinjol Ilegal, Begini Ciri-cirinya

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Naeli Zakiyah Nazah
Editor: Amry Nur Hidayat

Advertisement

Bagikan Artikel: