Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Government
Video
Indeks
About Us
Social Media

Integrasi Sawit dan Padi Gogo: Solusi Efektif untuk Peremajaan dan Ketahanan Pangan

Integrasi Sawit dan Padi Gogo: Solusi Efektif untuk Peremajaan dan Ketahanan Pangan Kredit Foto: Antara/Raisan Al Farisi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ketua Umum Rumah Sawit Indonesia (RSI), Kacuk Sumarto, menyebut jika integrasi antara sawit dengan padi gogo sangat cocok. Pasalnya, integrasi tumpang sari sawit dengan padi gogo ini membutuhkan sawah tadah hujan, dan selama itu petani bisa melakukan peremajaan kelapa sawit sampai dengan usia tanaman menghasilkan sehingga berkisar hanya sekitar 3 tahunan saja.

Menurut Kacuk, pada tahun pertama, ada sekitar 70% luas lahan bisa ditanami apabila lahan tersebut tidak diberakan atau dibiarkan terlebih dahulu. Lalu dua tahun berikutnya, menjadi sekitar 50% dan 30%. Penurunan luas ini disebabkan oleh tajuk dari sawit yang makin memanjang sehingga area lahan yang bisa ditanami menjadi berkurang.

Baca Juga: Manfaat Arang Tandan Sawit, Rupanya Bisa Cegah Penyerapan Air Berlebih

Jika peremajaan sawit ini berlangsung terus menerus dan konsisten dilakukan secara nasional, tutur Kacuk, khususnya di perkebunan sawit yang diindikasi secara resmi seluas 16,2 juta hektar, maka akan tersedia lahan yang bisa ditanami sekitar 1 juta hektar setiap tahunnya yang berpotensi untuk ditanami padi gogo.

“Hasilnya ya tinggal dikalikan dengan produktivitas dalam satu tahun dari benihnya itu sendiri,” kata Kacuk dalam keterangan yang diterima Warta Ekonomi, Senin (8/7/2024).

Program ini menurut Kacuk secara teknis diyakini bisa dilakukan dengan memilih lahan yang tidak berupa genangan dan tidak mengganggu embung-embung yang dikhususkan untuk tandon air bagi kebun sawit. Hanya saja, hal tersebut tergantung dari kesediaan pemilik kebun dan adanya pembeli dari hasil budidaya tersebut dengan harga yang wajar atau menguntungkan.

Lebih lanjut, dirinya juga menyebut jika perlu pertimbangan matang untuk integrasi tumpang sari tersebut agar jangan sampai mengganggu tanaman pokoknya. Baik saat adanya aktivitas budidaya padi maupun dari segi pemupukannya. Masing-masing tanaman diberikan pupuk yang memadai sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.

Diakui atau tidak Kacuk mengatakan jika nampaknya terdapat indikasi kendala dalam penerapan program itu. Adapun kendalanya antara lain ketersediaan bibit yang unggul dan pupuk serta herbisida yang terjangkau, ketersediaan pelatihan untuk budidaya dan pascapanennya.

Selanjutnya ketersediaan pembeli atau off taker yang mau membeli dengan harga yang wajar serta menguntungkan, lalu kebijakan dari pemerintah daerah setempat untuk memberikan perizinan khusus bagi penyelenggaraan tanaman tumpang sari atau kegiatan ekonomi lainnya di sela tanaman sawit.

Tantangan lainnya adalah pendampingan teknis bagi para pelaku sawit agar kebun sawitnya tidak terganggu dan tanaman sela (kegiatan ekonomi lainnya) bisa memberikan hasil yang maksimal.

Baca Juga: Prabowo – Gibran Didesak Hadirkan Badan Sawit Nasional

Secara tegas dirinya mengungkapkan jika pihaknya mendukung kegiatan penanaman padi gogo ini disela perkebunan sawit, saat peremajaan, lantaran secara nasional hal itu bisa meningkatkan produktivitas lahan perkebunan itu sendiri tanpa harus membuka lahan-lahan baru. di sisi lain, hal ini merupakan bagian dari upaya mencapai ketahanan pangan nasional.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Uswah Hasanah
Editor: Aldi Ginastiar

Advertisement

Bagikan Artikel: