Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Kabar Sawit
Video
Indeks
About Us
Social Media

Atasi Tanah Kurang Subur, Pakar Ungkap Kunci Swasembada Padi di Kalimantan Barat

Atasi Tanah Kurang Subur, Pakar Ungkap Kunci Swasembada Padi di Kalimantan Barat Kredit Foto: Antara/Jessica Helena Wuysang
Warta Ekonomi, Jakarta -

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, Radian, menilai jika perluasan lahan tanam atau ekstensifikasi merupakan langkah yang paling realistis untuk mencapai swasembada pangan, dalam kasus ini padi, di Kalimantan Barat (Kalbar).

Menurut Radian, hal tersebut disebabkan oleh kondisi tanah yang kurang subur serta produktivitas padi yang masih rendah jika dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia.

"Kalbar memiliki luas wilayah yang besar, namun tingkat kesuburan tanah untuk tanaman padi masih kurang optimal. Oleh karena itu, perluasan lahan lebih memungkinkan dibandingkan mengandalkan intensifikasi," ujar Radian dalam keterangannya di Pontianak, dikutip Jumat (31/1/2025).

Target Perluasan Lahan untuk Swasembada

Tercatat saat ini luas panen padi di Kalimantan Barat mencapai sekitar 250 ribu hektare. Menurut Radian, diperlukan setidakhnya lebih dari 300 ribu hektare lahan tanam untuk memenuhi kebutuhan konsumsi penduduk yang mencapai 5,4 juta jiwa tersebut. Di sisi lain, solusi yang dianggap paling realistis selain melakukan ekstensifikasi yakni pemanfaatan lahan potensial serta melakukan cetak sawah baru.

Jika Kalbar hanya mengandalkan intensifikasi, kata Radian, maka akan membutuhkan biaya besar lantaran lahan di wilayah ini tidak seoptimal daerah di Pulau Jawa. Tak hanya itu, tantangan utama pertanian di Kalbar yakni kesulitan pengaturan air yang mana lahan kerap mengalami kekeringan ketika kemarau dan banjir saat musim hujan.

Baca Juga: Dukung Program Presiden Soal Swasembada Pangan 2025, Kapolri dan Jajarannya Tanam Jagung 1 Juta Hektar

"Produktivitas padi di Kalbar masih sekitar 3 ton per hektare, jauh di bawah rata-rata nasional yang sudah di atas 5 ton per hektare. Pengaturan irigasi dan pengelolaan air menjadi sangat penting agar produksi bisa meningkat," jelasnya.

Peran Regulasi dan Perusahaan Sawit

Selain melakukan perluasan lahan, dirinya juga menyarankan adanya regulasi yang mewajibkan perusahaan kelapa sawit untuk terlibat dalam budidaya padi di sekitar perkebunan mereka dengan cara tumpang sari, misalnya.

Pasalnnya, perusahaan sawit dinilai bisa berkontribusi dalam penyediaan pangan bagi masyarakat sekitar maupun karyawan mereka dengan manajemen yang baik dan modal yang dimiliki.

Baca Juga: Blak-blakan Punya Kepentingan dalam Program Hilirisasi, PBNU Bakal Keluarkan Fikih Sawit

"Paling tidak, perusahaan bisa ikut menanam padi untuk memenuhi kebutuhan pangan di sekitar kebunnya. Ini bisa menjadi salah satu solusi dalam meningkatkan ketahanan pangan di Kalbar," ungkapnya.

Pertumbuhan Produksi Padi di 2024

Luas panen padi di Kalbar pada tahun 2024 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), diperkirakan mencapai 255,11 ribu hektare. Angka itu meningkat sebanyak 13,85% dari tahun sebelumnya.

Tak hanya itu, di tahun ini produksi padi juga diperkirakan naik menjadi 799,99 ribu ton Gabah Kering Giling (GKG). Angka tersebut meningkat sebesar 14,24% dibandingkan tahun 2023.

Baca Juga: Mentan Amran Klaim Produksi Beras Naik Meski Indonesia Dilanda Perubahan Iklim

Dengan strategi ekstensifikasi lahan dan dukungan regulasi yang tepat, Kalbar diharapkan mampu meningkatkan produksi padi secara signifikan dan mencapai swasembada pangan dalam beberapa tahun ke depan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Uswah Hasanah
Editor: Aldi Ginastiar

Advertisement

Bagikan Artikel: