
Nissan dan Honda resmi mengakhiri negosiasi untuk bergabung dan membentuk produsen mobil senilai US$60 miliar. Hal ini menjadi kabar yang mengejutkan untuk industri otomotif global.
Dilansir dari Reuters, Jumat (14/2), CEO Honda, Toshihiro Mibe memberikan sinyal bahwa merger gagal karena adanya ketidaksamaan visi terkait dengan kerja sama yang akan dilakukan oleh Honda dan Nissan.
Baca Juga: Meski Diterpa Sejumlah Skandal, Penjualan Toyota Tetap Kuasai Pasar Dunia
Mibe mengatakan bahwa negosiasi harus berakhir karena pihaknya khawatir dengan pembicaraan yang terus berlarut-larut tanpa ada kemajuan berarti antara kedua belah pihak.
Dikabarkan, Honda dan Nissan menjadi rumit karena perbedaan visi yang besar, termasuk terkait keseimbangan kekuasaan dalam kemitraan tersebut. Nissan dikabarkan menolak untuk menjadi anak usaha dari Honda.
Mibe menyebut kegagalan merger ini sebagai sesuatu yang mengecewakan. Meski demikian, pihaknya masih mempertimbangkan kemungkinan bekerja sama dengan perusahaan lainnya selain Nissan.
Adapun Nissan kini menjadi perusahaan yang berada dalam posisi sulit menyusul kondisi peruahaan yang belum sepenuhnya pulih dari krisis dan gejolak manajemen yang terjadi setelah penangkapan dan penggulingan dari Carlos Ghosn.
Baca Juga: Volvo Cars: 2025 Akan Jadi Tahun Sulit untuk Industri Otomotif
Nissan kini berada dalam ketidakpastian, tak hanya soal kondisi perusahaannya saat ini namun juga masa depannya untuk bersaing dalam industri kendaraan, khususnya kendaraan listrik yang tengah didominasi oleh China.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait:
Advertisement