Pasar Otomotif Sepi, Premi Asuransi Kendaraan Turun 5% hingga Oktober 2025
Kredit Foto: Azka Elfriza
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pendapatan premi asuransi kendaraan bermotor mengalami kontraksi sepanjang 2025 seiring melemahnya pasar otomotif nasional, tekanan daya beli masyarakat, serta perlambatan kredit kendaraan bermotor.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono, mengatakan pendapatan premi asuransi kendaraan bermotor pada Oktober 2025 tercatat sebesar Rp17,09 triliun atau turun 5,01 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
“Berdasarkan data posisi Oktober 2025, pendapatan premi lini usaha kendaraan bermotor mencapai sekitar Rp17,09 triliun, turun sekitar 5,01% secara YoY,” ujar Ogi dalam lembar jawaban tertulis, Jumat (2/1/2026).
Sejalan dengan kontraksi premi, OJK juga mencatat klaim asuransi kendaraan bermotor mengalami penurunan sebesar 1,39 persen secara tahunan. Dengan demikian, lini usaha asuransi kendaraan bermotor belum mencatatkan pertumbuhan positif hingga akhir Oktober 2025.
Baca Juga: Data dari GAIKINDO, Pabrikan Jepang Masih Kuasai Pasar Otomotif Nasional
Ogi menjelaskan, pelemahan kinerja premi tidak terlepas dari kondisi industri otomotif yang masih tertekan. Penjualan kendaraan baru tercatat lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya, sehingga berdampak langsung terhadap permintaan produk asuransi kendaraan bermotor.
Penurunan daya beli masyarakat turut memengaruhi keputusan konsumen dalam melakukan pembelian kendaraan baru. Kondisi tersebut diperparah oleh perlambatan penyaluran kredit kendaraan bermotor yang selama ini menjadi salah satu pendorong utama penjualan otomotif nasional.
“Penurunan daya beli, perlambatan kredit kendaraan bermotor, dan kehati-hatian konsumen dalam membeli kendaraan baru turut menjadi faktor yang menahan laju premi asuransi kendaraan,” ujarnya.
Baca Juga: Pembiayaan Mobil Listrik Tembus Rp17,64 Triliun, OJK Yakin Bakal Makin Ramai Tahun Depan
Menurut Ogi, kinerja premi asuransi kendaraan bermotor memiliki korelasi yang kuat dengan dinamika industri otomotif. Oleh karena itu, perlambatan yang terjadi di sektor kendaraan bermotor secara langsung tercermin pada kinerja industri asuransi di lini tersebut.
Ia menegaskan bahwa kontraksi premi tidak dapat dilihat secara terpisah dari kondisi pasar kendaraan secara keseluruhan. Lesunya penjualan kendaraan baru menjadi faktor dominan yang memengaruhi pendapatan premi asuransi kendaraan sepanjang 2025.
“Namun secara keseluruhan, kontraksi premi asuransi kendaraan bermotor menunjukkan keterkaitan kuat dengan lesunya pasar otomotif, bukan berarti sektor asuransi sepenuhnya terlepas dari kondisi industri kendaraan itu sendiri,” tuturnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait:
Advertisement