- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Dituduh Jadi Penyebab Banjir Sumatera, PLTA Batang Toru Bakal Beroperasi Oktober 2026
Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyebut Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru yang berlokasi di Tapanuli Selatan dijadwalkan mulai beroperasi komersial (Commercial Operation Date/COD) pada Oktober 2026.
Pembangkit berkapasitas 510 Mega Watt (MW) ini sebelumnya sempat memicu kontroversi karena dianggap sebagai salah satu penyebab hilangnya tutupan hutan di ekosistem Harangan Tapanuli. Kerusakan lingkungan tersebut dinilai memperparah cuaca ekstrem hidrometeorologi yang melanda wilayah Sumatera bagian utara beberapa waktu lalu.
Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menyebut proyek PLTA Batang Toru, bersama dengan tambang emas Martabe, PT Toba Pulp Lestari, serta pembukaan perkebunan sawit oleh PT Sago Nauli Plantation dan PTPN III Batang Toru Estate, berkontribusi langsung pada percepatan hilangnya fungsi hutan sebagai penyangga ekologis penting.
Baca Juga: Pemerintah Kaji Diskon Tarif Listrik di Wilayah Bencana Sumatra
PLTA Batang Toru sendiri dimiliki oleh PT North Sumatera Hydro Energy dan berstatus sebagai Independent Power Producer (IPP) yang menyalurkan listrik ke PT PLN (Persero). Dalam Laporan Kinerja PLN Semester I 2025 disebutkan bahwa pembangkit ini memiliki masa kontrak 30 tahun yakni 2026 hingga 2056.
“Rencana Oktober 2026 COD. Tadinya Desember (2025) atau Januari (2026), tapi menjadi Oktober. Sekarang lagi berbenah karena ada longsor," ujar Eniya selepas konferensi pers Kinerja Kementerian ESDM, Kamis (8/1/2026).
Sebelumnya, PT PLN (Persero) sempat menyinggung bahwa pembangkit ini menjadi salah satu cara PLN untuk mencukupi kebutuhan listrik PT Inalum yang sedang melakukan ekspansi fasilitas pemurnian aluminium di Kuala Tanjung, Sumatera Utara.
Saat ini, Inalum menggunakan listrik dari dua PLTA yakni Siguragura dan Tangga dengan kapasitas total 603 MW. Perusahaan menegaskan akan tetap menggunakan energi hijau dalam menghasilkan alumunium.
Namun, seiring peningkatan kapasitas smelter, kebutuhan daya total Inalum diprediksi mencapai 915 MW atau mendekati 1 GW. Tambahan sebesar 406 MW menjadi kebutuhan mutlak yang tidak dapat dipenuhi hanya oleh dua PLTA eksisting.
Baca Juga: BLT Rp200 Ribu/Bulan Berlanjut, Korban Bencana Sumatra Dapat Bantuan hingga Rp8 Juta
Direktur Transmisi dan Perencanaan Sistem PLN, Edwin Nugraha, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI pada 20 November 2025, menyatakan bahwa tambahan kebutuhan daya Inalum akan dipenuhi lewat PLTA Batang Toru bersama dengan PLTA Asahan I, PLTA Asahan III, Ekspansi PLTA Asahan I, dan PLTP Sarulla 330 MW.
Keberadan pembangkit ini akan diperkuat oleh pembangunan backbone transmisi 500 kV yang meliputi jalur Perawang–Peranap, Peranap–Rantau Prapat, hingga Rantau Prapat–Galang. Proyek ini juga mencakup pembangunan GITET 500 kV Kuala Tanjung sebagai terminal utama suplai energi smelter.
“Rencananya transmisi 500 kV ini rampung 2028 untuk inline dengan kebutuhan 2029 sebesar 406 MW,” kata Edwin.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait:
Advertisement