Kredit Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
Danantara Indonesia menegaskan suntikan dana ke badan usaha milik negara (BUMN) seperti PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) bukan merupakan langkah penyelamatan (bailout), melainkan bagian dari strategi operational and balance sheet reset untuk memastikan keberlanjutan usaha jangka panjang.
Dalam Danantara Economic Outlook 2026 diungkapkan bahwa restrukturisasi BUMN pada fase saat ini difokuskan pada perbaikan fundamental, penguatan disiplin operasional, serta akuntabilitas, bukan penyuntikan dana tanpa prasyarat.
“Ini bukan siklus bailout, melainkan reset operasional dan neraca. Penyertaan modal dan restrukturisasi hanya bermakna jika disertai rasionalisasi aset, perbaikan indikator kinerja operasional, dan akuntabilitas yang kredibel,” tulis Danantara dalam laporannya, Jakarta, Senin (12/1/2026).
Danantara juga menegaskan bahwa dukungan pendanaan hanya diberikan dalam kerangka reformasi yang terukur dan bersyarat. Suntikan modal dinilai relevan apabila menjadi bagian dari rangkaian pembenahan menyeluruh, termasuk perbaikan tata kelola, penyederhanaan struktur usaha, serta penguatan mekanisme pengawasan terhadap kinerja manajemen.
Baca Juga: Danantara Yakin Saham BUMN Masih akan Melesat di 2026
Dalam laporan tersebut, Krakatau Steel dan Garuda Indonesia disebut sebagai bagian dari BUMN yang telah menunjukkan kemajuan awal dalam proses turnaround. Pergerakan harga saham kedua emiten tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa pasar mulai merespons positif upaya restrukturisasi yang dijalankan secara konsisten, meski Danantara menekankan bahwa kepercayaan pasar tetap bergantung pada kesinambungan eksekusi.
Danantara menempatkan tahun 2025 sebagai reset year, ketika tantangan struktural diidentifikasi secara terbuka dan proses restrukturisasi mulai dijalankan. Sementara itu, 2026 diposisikan sebagai fase pembuktian eksekusi, di mana pasar tidak lagi sekadar menilai niat reformasi, melainkan menuntut hasil nyata berupa perbaikan neraca, integrasi usaha, serta peningkatan efisiensi operasional.
Dalam konteks yang lebih luas, Danantara menilai konsolidasi BUMN menjadi katalis struktural utama reformasi. Penyederhanaan jumlah entitas dan pengurangan fragmentasi dinilai akan meningkatkan disiplin pengelolaan, efisiensi permodalan, serta konsistensi pengambilan keputusan bisnis, sehingga mengurangi risiko dukungan berulang di masa depan.
Asal tahu saja, Danantara menyuntikan modal ke Garuda Indonesia melalui skema private placement senilai Rp23,67 triliun yang disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 12 November 2025. Tambahan modal tersebut berasal dari PT Danantara Asset Management (DAM).
Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk, Glenny H. Kairupan, menegaskan dana tersebut akan digunakan secara terarah untuk memperkuat transformasi bisnis dan operasional maskapai nasional tersebut.
“Penyertaan modal ini adalah bentuk keyakinan terhadap visi jangka panjang kami untuk menjadi maskapai nasional yang sehat, tangguh, dan berkelas dunia,” ujar Glenny dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (13/11/2025).
Baca Juga: Danantara Prediksi Kinerja Bank BUMN akan Membaik di 2026
Sementara itu, pada Krakatau Steel, dukungan Danantara diberikan dalam bentuk pinjaman pemegang saham (shareholder loan) dengan nilai maksimal Rp4,94 triliun atau setara sekitar USD295 juta. Transaksi ini telah memperoleh persetujuan Badan Pengelola BUMN (BP BUMN) melalui Surat No. S-101/BPU/12/2025 tertanggal 2 Desember 2025 serta disetujui Dewan Komisaris Perseroan pada 3 Desember 2025.
KRAS dan Danantara Asset Management menandatangani Perjanjian Pemegang Saham pada 19 Desember 2025. Dari total pinjaman tersebut, sebesar Rp4,18 triliun dialokasikan sebagai pinjaman modal kerja dengan tenor minimal lima tahun. Adapun Rp752,81 miliar digunakan untuk pendanaan Program Pengunduran Diri Sukarela melalui skema golden handshake serta program penyehatan dana pensiun dengan tenor minimal enam tahun.
Manajemen Krakatau Steel menyebut transaksi ini tergolong material karena nilainya melebihi 20% dari ekuitas Perseroan berdasarkan laporan keuangan auditan tahun buku 2024, dengan ekuitas tercatat sebesar USD435,18 juta.
Manajemen menegaskan dukungan pendanaan tersebut ditujukan untuk menjaga kelangsungan usaha dan memperkuat likuiditas Perseroan, khususnya dalam menopang operasional pabrik Hot Strip Mill (HSM) yang menjadi tulang punggung bisnis Krakatau Steel.
“Dengan dukungan pendanaan melalui pinjaman pemegang saham, Perseroan akan memiliki likuiditas yang lebih kuat, sehingga mampu menjalankan kegiatan operasional secara lebih optimal. Kondisi ini berdampak langsung pada penurunan biaya produksi serta peningkatan daya saing produk Perseroan,” jelas manajemen.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait:
Advertisement