Lenovo CIO Playbook 2026 Ungkap Lonjakan Investasi AI dan Peralihan ke Hybrid AI
Kredit Foto: Istimewa
Berdasarkan laporan edisi ke-4 Lenovo CIO Playbook 2026, The Race for Enterprise AI yang disusun oleh Lenovo dan mengacu pada temuan riset IDC, sekitar 96% organisasi memiliki rencana untuk menambah investasi di bidang AI dalam jangka waktu satu tahun mendatang.
Rata-rata, belanja AI diproyeksikan meningkat sekitar 15%, yang mencakup GenAI dan Agentic AI, layanan AI melalui cloud publik, infrastruktur AI on-premise, serta beragam solusi keamanan berbasis AI.
Wilayah ASEAN+ (meliputi Indonesia, Singapura, Thailand, Malaysia, Filipina, Hong Kong, dan Taiwan) menunjukkan tren yang sejalan, di mana 96% organisasi di kawasan ini pun berencana meningkatkan investasi AI.
Kondisi ini semakin mengukuhkan posisi AI sebagai penggerak utama pertumbuhan dan peningkatan daya saing perusahaan-perusahaan di seluruh wilayah tersebut.
“Dengan meningkatnya skala beban kerja AI, strategi infrastruktur hybrid AI kini muncul sebagai keputusan krusial bagi para CIO. Laporan ini menemukan bahwa 86% organisasi di seluruh Asia Pasifik kini menyertakan lingkungan on-premises atau edge sebagai bagian dari arsitektur hybrid AI, yang secara efektif menjadikan hybrid AI sebagai model standar untuk implementasi AI di perusahaan,” kata Thomas Butler, Vice President, Commercial Portfolio & Product Management, di Jakarta, Selasa (13/1/2026).
Di kawasan ASEAN+, lanjutnya, sebanyak 81% organisasi memilih arsitektur hybrid AI yang mengombinasikan sistem on-premise dan edge untuk menyeimbangkan performa, keamanan, dan kepatuhan regulasi.
Proyeksi Bisnis dan Tantangan Aplikasi AI
Sebanyak 88% organisasi di Asia Pasifik mengharapkan ROI positif dari AI pada tahun 2026, dengan rata-rata proyeksi pengembalian investasi sebesar 2,8x lipat (US$2,85 untuk setiap US$1 yang diinvestasikan).
Namun, memperluas skala AI melampaui tahap uji coba tetap menjadi tantangan utama, yang mempertegas pentingnya tata kelola, model operasional, dan manajemen siklus hidup.
Sementara itu, adopsi AI di seluruh Asia Pasifik terus dipercepat dan tidak lagi terbatas pada departemen IT.
Sebanyak 66% organisasi telah melakukan uji coba atau mengadopsi AI secara sistematis, sementara 15% masih dalam tahap awal dan 19% sedang mempertimbangkan untuk melakukan adopsi.
ASEAN+ menunjukkan pola yang serupa, dengan 67% organisasi telah melakukan uji coba atau mengadopsi AI secara sistematis, 15% berada pada tahap awal, dan 18% lainnya tengah mengevaluasi adopsi.
“Organisasi di kawasan ASEAN+, termasuk perusahaan di Indonesia yang tengah mempercepat transformasi digital, kini telah beralih dari sekadar uji coba AI ke penerapan dalam skala besar. Sebanyak 67% organisasi mengadopsi AI secara sistematis, dengan integrasi AI ke perangkat dan infrastruktur yang ada menjadi prioritas investasi utama,” ujar Budi Janto, President Director, Lenovo Indonesia.
Dia menegaskan, “Fokusnya jelas, yaitu menanamkan AI ke lingkungan kerja yang sudah berjalan untuk menghasilkan nilai bisnis dengan cepat. Hal ini tercermin dari potensi imbal hasil hingga 2,7 kali lipat dari setiap dolar yang diinvestasikan, menegaskan AI kini menjadi infrastruktur penting bagi bisnis,” tambahnya.
Agentic AI dan Prioritas di Tahun 2026
Fan Ho, ED & GM, Asia Pacific, Solutions & Services Group, Lenovo, mengatakan, “Dengan hampir 60% organisasi yang telah menjajaki Agentic AI dan mayoritas memilih jalur yang terukur untuk memperluas skalanya, hal ini mencerminkan bahwa perusahaan menginginkan AI yang beroperasi di dalam alur kerja inti, memenuhi ekspektasi keamanan dan tata kelola, serta memberikan hasil yang konsisten,” ujar Fan Ho.
Lebih lanjut dijelaskan, saat ini sudah ada 21% organisasi di Asia Pasifik melaporkan penggunaan Agentic AI yang signifikan.
Minat terhadap Agentic AI pun diperkirakan akan meningkat dua kali lipat dalam 12 bulan ke depan.
Meski begitu, hanya 10% organisasi yang menganggap diri mereka siap untuk implementasi Agentic AI dalam skala besar, sementara 41% lainnya membutuhkan waktu lebih dari 12 bulan untuk dapat meningkatkannya secara signifikan.
Keamanan, tata kelola, kualitas data, serta kompleksitas integrasi tetap menjadi hambatan utama.
Secara garis besar, Lenovo CIO Playbook 2026 menyoroti tiga prioritas utama yang akan membentuk arah perjalanan di tahun mendatang:
Baca Juga: Menkomdigi Pastikan Layanan Komunikasi Tetap Optimal untuk Warga Selama Libur Nataru
1. Pemanfaatan AI dalam operasional menjadi penggerak utama nilai bisnis
Sepanjang siklus penggunaan model AI, biaya untuk menjalankan AI dalam aktivitas sehari-hari bisa mencapai hingga 15 kali lebih besar dibandingkan biaya pelatihannya. Pada 2030, sekitar 75% kapasitas komputasi AI akan digunakan untuk operasional AI, dengan 80% perusahaan mengandalkan infrastruktur edge yang tersebar.
2. Produktivitas karyawan semakin menjadi prioritas strategis
Penerapan perangkat berbasis AI untuk meningkatkan produktivitas dan mendukung inferensi lokal menjadi prioritas investasi IT #2, seiring dengan meningkatnya adopsi AI PC. Diperkirakan 50% pembelian PC di segmen enterprise akan beralih ke model yang dilengkapi agen AI on-device.
3. Skalabilitas AI masih menjadi tantangan utama
Meski 88% organisasi memperkirakan AI akan memberikan ROI positif, hanya sekitar setengah dari proyek uji coba AI (proof-of-concept) yang berhasil diterapkan ke tahap produksi. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan pada ambisi, melainkan pada kemampuan untuk mengembangkan AI dalam skala besar.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Advertisement