Kredit Foto: Kemenkeu
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai keterlibatan aktif sektor swasta dalam penciptaan lapangan kerja menjadi kunci untuk memperkuat daya beli dan meningkatkan pendapatan kelas menengah bawah, yang saat ini dinilai sebagai kelompok paling rentan dalam menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional.
Wakil Ketua Umum Bidang Analisis Kebijakan Makro-Mikro Ekonomi Kadin Indonesia Aviliani menegaskan, penciptaan lapangan kerja merupakan kontribusi utama yang dapat diberikan dunia usaha untuk membantu pemerintah menghadapi tekanan ekonomi yang terus dialami masyarakat, khususnya kelas menengah bawah. Menurutnya, peran sektor swasta semakin krusial mengingat ruang fiskal pemerintah yang terbatas.
Ia menjelaskan bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, struktur konsumsi tersebut belum merata antar kelompok pendapatan.
“Sekitar 70 persen konsumsi rumah tangga dalam produk domestik bruto (PDB) berasal dari kelompok masyarakat berpendapatan tinggi dan menengah atas. Sementara itu, kontribusi kelompok menengah bawah hanya sekitar 17 persen,” ujar Aviliani, Kamis (15/1/2025).
Baca Juga: Kadin Perkuat Diplomasi Ekonomi di Era Prabowo
Kondisi tersebut, menurut Aviliani, menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara besarnya populasi kelas menengah bawah dengan perannya dalam menopang konsumsi nasional. Ia menyebut jumlah kelompok menengah bawah mencapai sekitar 75 juta orang.
Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok ini menghadapi tekanan ekonomi akibat penurunan pendapatan, sehingga daya belinya belum mampu tumbuh secara optimal.
“Kita harus mendorong agar 75 juta orang atau 17 persen tadi bisa naik kelas dan menjadi bagian dari kelompok yang menopang konsumsi 70 persen,” kata Aviliani.
Ia menekankan, peningkatan kualitas dan ketersediaan lapangan kerja menjadi faktor kunci agar kelompok menengah bawah dapat memperkuat kontribusinya terhadap perekonomian. Dalam konteks ini, Kadin menilai sektor swasta memiliki posisi strategis dalam memperluas kesempatan kerja yang berkelanjutan.
Dunia usaha dinilai mampu mendorong peningkatan pendapatan kelas menengah bawah, baik melalui penciptaan lapangan kerja formal maupun pengembangan rantai nilai industri yang lebih luas dan inklusif.
Baca Juga: Kadin Siapkan Empat Agenda Jaga Ketahanan Ekonomi
Aviliani juga membandingkan kondisi kelas menengah bawah dengan kelompok masyarakat berpendapatan rendah. Ia mencatat, kelompok masyarakat bawah yang jumlahnya sekitar 25 juta orang dan berkontribusi sekitar 13 persen terhadap PDB umumnya masih mendapatkan dukungan langsung dari pemerintah, seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT).
Sebaliknya, kelas menengah bawah kerap berada di luar jangkauan berbagai skema bantuan sosial atau insentif pendapatan.
“Yang sebenarnya bermasalah justru kelompok 17 persen ini. Mereka tidak miskin, tetapi juga tidak cukup kuat. Ini yang harus mulai menjadi perhatian serius ke depan,” ujar Aviliani.
Kadin menilai, tanpa keterlibatan aktif sektor swasta dalam memperluas lapangan kerja dan meningkatkan kualitas pendapatan, tekanan terhadap kelas menengah bawah berpotensi terus berlanjut dan memengaruhi ketahanan pertumbuhan ekonomi nasional.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Uswah Hasanah
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait:
Advertisement