Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Melemah ke Rp16.955, Ini Biang Keroknya!

Rupiah Melemah ke Rp16.955, Ini Biang Keroknya! Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah kembali melemah dan mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin (19/1/2026). Rupiah ditutup terdepresiasi 68 poin ke posisi Rp16.955 per dolar AS, dipicu penguatan dolar AS di tengah memburuknya sentimen global dan meningkatnya permintaan aset safe haven.

Pada penutupan perdagangan sore, rupiah bergerak lebih rendah dibandingkan posisi akhir perdagangan sebelumnya di Rp16.896 per dolar AS. Sepanjang hari, rupiah sempat melemah hingga 75 poin seiring penguatan indeks dolar AS yang mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar global.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah terutama berasal dari faktor eksternal. Ia menyebut penguatan dolar AS dipicu kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan perdagangan Amerika Serikat.

“Indeks dolar AS menguat seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan perdagangan Amerika Serikat,” kata Ibrahim, Senin (19/1/2026).

Baca Juga: Rupiah Melemah, Kadin Wanti-wanti Tekanan Berat ke Dunia Usaha

Dari sisi global, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan memberlakukan tarif baru terhadap delapan negara Eropa yang menentang rencana AS untuk mengakuisisi Greenland. Trump menyebut AS akan mengenakan tarif 10% atas barang dari negara-negara tersebut mulai 1 Februari 2026, yang berpotensi meningkat menjadi 25% pada Juni jika tidak tercapai kesepakatan.

Negara yang menjadi sasaran kebijakan tarif tersebut mencakup Prancis, Jerman, Inggris, serta sejumlah negara Nordik dan Eropa Utara. Pernyataan itu memicu respons keras dari pejabat Eropa dan meningkatkan kekhawatiran pasar akan eskalasi sengketa perdagangan lintas Atlantik. Kondisi tersebut mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang global, termasuk rupiah.

Tekanan eksternal turut diperkuat oleh rilis data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan pasar tenaga kerja masih solid. Situasi ini membuat pelaku pasar meragukan peluang pemangkasan suku bunga secara agresif oleh Federal Reserve dalam waktu dekat.

“Kontrak berjangka dana Fed kini menggeser ekspektasi pemotongan suku bunga ke Juni dan September, dari perkiraan sebelumnya pada Januari dan April, memperkuat pandangan bahwa suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama,” jelas Ibrahim.

Dari kawasan Asia, pertumbuhan ekonomi China sebesar 5,0% sepanjang tahun lalu dinilai belum cukup kuat meredam tekanan global. Pertumbuhan tersebut lebih banyak ditopang oleh permintaan ekspor, sementara konsumsi domestik masih lemah, sehingga belum mampu memberikan sentimen positif bagi mata uang negara berkembang.

Di dalam negeri, rupiah juga dibayangi kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan fiskal pemerintah. Pelaku pasar menilai pemerintah akan mengambil langkah-langkah fiskal yang relatif tidak lazim untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi Presiden Prabowo Subianto sebesar 8% pada 2029, yang berpotensi meningkatkan risiko jangka menengah.

Baca Juga: Rupiah Nyerempet Rp17.000, Airlangga Sebut Masih Aman

Tekanan bertambah setelah defisit anggaran 2025 dilaporkan mendekati batas hukum 3% dari produk domestik bruto (PDB), sementara kinerja penerimaan negara masih lemah. Kondisi tersebut dinilai menambah tekanan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.

Meski Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar domestic non-deliverable forward (DNDF) dan non-deliverable forward (NDF), ruang kebijakan moneter dinilai terbatas. Bank sentral diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan dalam rapat kebijakan pada Rabu mendatang.

Selain kebijakan suku bunga, BI disebut mengoptimalkan instrumen lain seperti intervensi valas, penyesuaian penerbitan surat berharga bank sentral, serta pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder untuk menjaga stabilitas rupiah.

Untuk perdagangan Selasa (20/1/2026), rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp16.950 hingga Rp16.980 per dolar AS.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Uswah Hasanah
Editor: Annisa Nurfitri

Advertisement

Bagikan Artikel: