Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Fenomena Kaum Rebahan dan Migrasi Baru Asal Cina, Apakah Sebuah Perlawanan Terselubung?

Fenomena Kaum Rebahan dan Migrasi Baru Asal Cina, Apakah Sebuah Perlawanan Terselubung? Kredit Foto: Istimewa

Sebagai respons terhadap keadaan tersebut, sebagian masyarakat di Cina mencanangkan gaya hidup santai yang dikenal dengan sebutan “tangping”atau “rebahan”. Mereka pergi meninggalkan kota besar dan hidup di kota kecil dengan lingkungan yang jauh lebih menyenangkan dengan tekanan yang lebih rendah. Namun sebagian dari mereka memilih untuk meninggalkan Cina. 

Menurut Prof Nyiri, fenomena ini semakin marak berlangsung sejak pandemi Covid 19, sebagai akibat dari kebijakan penguncian (lockdown) ketat yang dilaksanakan oleh RRC terhadap warganya. 

“Penguncian ini menimbulkan efek kejut (shock) yang dalam bagi orang-orang tertentu di Cina. Orang-orang yang memiliki gaya hidup kelas atas akhirnya menyadari bahwa pemerintah bisa saja membuat mereka terkurung. Intervensi ini sangat mengejutkan bagi generasi dan kelas (atas) ini, sehingga mereka mencari tujuan di luar Cina untuk berpindah,” ucap dia.

Prof Nyiri menyampaikan pandangannya bahwa terdapat hubungan erat antara fenomena migrasi baru asal Cina dengan kembalinya negara itu ke dalam tatanan ekonomi global. Fenomena migrasi itu bukan merupakan fenomena tunggal yang bersifat statis, melainkan sebuah fenomena yang dinamis sesuai dengan perkembangan situasi yang terjadi di Cina. 

Ia juga menjelaskan bagaimana migrasi baru di atas pertama kali muncul seiring dengan dicanangkannya reformasi ekonomi 1978 oleh Deng Xiaoping, yang saat itu membuat pernyataan bahwa hubungan dengan negara luar sebagai hal yang baik (haiwai guanxi shi ge hao dongxi). 

Sejak masa itu, muncullah fenomena migrasi dari RRC ke berbagai negara Asia Tenggara, dengan Laos dan Thailand sebagai tujuan utama. Sebagaimana disampaikan oleh Prof Nyiri, berbagai jenis migrasi asal Cina yang berlangsung sejak era reformasi ekonomi 1978 hingga dasawarsa pertama abad 21 dapat dipahami dengan logika produksi, dan dilatarbelakangi oleh motivasi memperoleh kekayaan alias taojin (mencari emas). 

Namun sejak 2010 hingga periode pasca Covid-19, terjadi sebuah fenomena yang sangat menarik untuk diamati, yaitu munculnya migrasi yang tidak berangkat dari motivasi mengumpulkan uang, tetapi untuk mendapatkan gaya hidup yang dianggap lebih nyaman, santai, dan tanpa tekanan yang berlebihan. 

Trend mengirimkan anak-anak untuk menempuh pendidikan di negara-negara Asia Tenggara demi membangun sebuah kehidupan keluarga yang lebih santai, sehat, dengan tekanan yang lebih sedikit, seperti diceritakan di atas termasuk dalam kategori migrasi semacam ini. "Migrasi model ini tak lagi terkait dengan logika produksi, tetapi reproduksi sosial,” tambah dia.    

Baca Juga: Beijing Gerak, Operasi Drone China Diam-diam Masuki Taiwan

Pengamat masalah Cina yang juga merupakan Ketua FSI, Johanes Herlijanto, menambahkan bahwa masyarakat Cina merupakan masyarakat yang beragam dan dinamis. Oleh karena itu, wacana bahwa pekerja asal Cina selalu memiliki etos kerja yang lebih baik dari pekerja Indonesia merupakan sebuah wacana yang tidak tepat, dan mengandung bias esensialis. 

Ia juga berpandangan bahwa kajian di atas memperlihatkan bahwa berbeda dari propaganda yang tersebar di media milik pemerintah RRC dan media sosial, Cina bukanlah sebuah negara tanpa permasalahan ekonomi dan sosial. 

Sebaliknya, berbagai permasalahan dari mulai pengangguran hingga ketatnya persaingan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat di sana, yang memunculkan motivasi bagi kalangan tertentu untuk meninggalkan negerinya dan menetap di negara lain. 

Dan yang tak kalah penting, sistem politik otoritarian yang diwarnai dengan intervensi berlebihan pemerintah ke dalam ranah ekonomi dan privat, ternyata menyebabkan kekecewaan dan ketidaksukaan di kalangan tertentu dalam masyarakat Cina. Mereka yang memiliki kemampuan ekonomi merespons kondisi di atas dengan melakukan perlawanan, meski perlawanan itu dilakukan secara tersembunyi. 

Sementara itu, pakar hubungan internasional Prof Edwin M. B. Tambunan beranggapan bahwa kehadiran fenomena tangping serta trend migrasi di kalangan para penganut gaya hidup di atas bukan sekadar perlawanan terhadap pihak-pihak yang berkuasa, tetapi bahkan terhadap nilai-nilai dan sistem yang telah diterapkan selama beberapa dasawarsa. 

“Kaum rebahan ini menolak untuk bekerja sangat keras demi meningkatkan taraf hidup dan kelas sosial mereka, tetapi justru melakukan resistensi (perlawanan) diam-diam, untuk menentang naratif yang dominan mengenai kesuksesan, produktivitas, dan progress," tutur dia.

Menurut akademisi yang memiliki kepakaran di bidang hubungan internasional ini, berbagai pertanyaan yang diajukan terkait munculnya fenomena tangping sebagai alternatif dari fenomena taojin yang telah lebih dahulu berlangsung selama beberapa dasawarsa sangat relevan bagi masyarakat hari ini. 

“Isu ini menjadi sangat relevan bagi kita yang berada dalam ketidakpastian global, yang ditandai dengan ketegangan-ketegangan geopolitik, rekonfigurasi ekonomi, disrupsi teknologi, dan pola globalisasi yang berubah,” ucap Prof. Edwin yang juga Dekan Fisip UPH itu.

Halaman:

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Belinda Safitri

Tag Terkait:

Advertisement

Bagikan Artikel: