- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Akademisi Bandung: RDMP Jadi Jalan Strategis Indonesia Lepas dari Ketergantungan Impor Energi
Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Ketika gejolak geopolitik global terus menekan harga energi dunia, sejumlah akademisi di Bandung, Jawa Barat, menilai Indonesia memiliki satu kartu truf penting untuk keluar dari jerat ketergantungan impor BBM: proyek Refinery Development Master Plan (RDMP).
Program pengembangan kilang ini dinilai menjadi fondasi kunci dalam mewujudkan cita-cita swasembada energi nasional.
Pengamat ekonomi energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, menyebut RDMP sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor, khususnya solar. Selama produksi minyak mentah nasional belum mampu mengejar kebutuhan dalam negeri, keberadaan kilang dengan kapasitas dan teknologi yang memadai menjadi faktor krusial.
“Kalau dari sisi substitusi impor, tentu ini akan memperbesar ruang fiskal dan mengurangi ketergantungan kita pada impor. Itu jelas hal yang positif,” kata Yayan dalam diskusi bertajuk “Swasembada Energi di Era Presiden Prabowo” di Bandung, Selasa (20/1/2026).
Menurut Yayan, keterbatasan kapasitas kilang dan cadangan penyangga selama ini membuat Indonesia sangat bergantung pada mekanisme harga pasar global. Akibatnya, harga BBM domestik menjadi sensitif terhadap fluktuasi harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah. RDMP dinilai dapat menekan kerentanan tersebut secara bertahap.
“RDMP ini langkah awal yang baik menuju swasembada energi, tapi harus dipikirkan jangka panjangnya. Jangan berhenti di satu kilang saja, tapi harus mencakup seluruh Indonesia,” ujarnya.
Selain menjaga stabilitas pasokan energi, pengurangan impor solar juga diyakini akan memberi dampak positif terhadap nilai tukar rupiah. Selama ini, impor BBM menjadi salah satu penyerap devisa terbesar, sehingga penurunannya berpotensi mengurangi tekanan terhadap cadangan devisa nasional.
Pandangan senada disampaikan ekonom Universitas Pasundan (Unpas), Acuviarta Kartabi. Ia menilai RDMP dapat menjadi warisan strategis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto jika dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan. Menurutnya, pembangunan kilang di dalam negeri akan menciptakan efisiensi struktural dalam sistem energi nasional.
“Ini bisa menjadi legacy yang bagus. Harapannya, ke depan akan dibangun lebih banyak RDMP sehingga dalam jangka menengah target swasembada energi setidaknya bisa mendekati realisasi,” kata Acuviarta.
Ia menambahkan, penurunan impor BBM akan berdampak langsung pada stabilitas nilai tukar.
"Impor BBM itu salah satu komponen yang sangat menguras devisa. Kalau impor bisa dikurangi, permintaan valas, khususnya dolar, akan turun dan itu berdampak besar pada stabilitas nilai tukar rupiah,” ujarnya.
Dari perspektif kebijakan publik, pengamat kebijakan Unpad, Bonti Wirainata, menilai RDMP selaras dengan arah kebijakan nasional yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 tentang transisi energi.
Penguatan infrastruktur pengolahan energi di dalam negeri disebut sebagai bagian penting dari strategi jangka panjang pemerintah.
“Dari sudut kebijakan publik dan regulasi, ini sejalan dengan apa yang diharapkan pemerintah. Tapi kebijakan harus tetap berbasis kondisi aktual dan evidence-based policy,” kata Bonti.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan RDMP tidak hanya ditentukan oleh kapasitas kilang semata, melainkan juga oleh integrasinya dengan strategi pertahanan dan keamanan nasional. Di tengah dinamika geopolitik global, ketahanan energi menjadi fondasi utama ketahanan negara.
“Energi itu salah satu pintu masuk kelemahan negara. Kalau energi terganggu, daya tahan negara juga ikut melemah. Karena itu, kebijakan energi tidak boleh terfragmentasi,” tegasnya.
Baca Juga: Dukung Akselerasi Industri Otomotif Modern, Kilang RDMP Balikpapan Siap Produksi BBM Standar Euro 5
Saat ini, proyek RDMP Balikpapan menjadi salah satu pilar utama pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Kilang yang dikelola Pertamina tersebut mengalami peningkatan kapasitas pengolahan signifikan, dari sekitar 260.000 barel per hari menjadi 360.000 barel per hari.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan RDMP Balikpapan merupakan bagian dari strategi besar menuju swasembada energi. Dengan beroperasinya kilang tersebut, pemerintah menargetkan Indonesia tidak lagi mengimpor solar dalam beberapa tahun ke depan.
“Kita ingin berdiri di atas kaki sendiri dalam sektor energi. Dengan RDMP ini, impor solar bisa dihentikan secara bertahap, devisa negara bisa dihemat, dan ketahanan energi kita akan jauh lebih kuat,” pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Saepulloh
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait:
Advertisement