Kredit Foto: Kementerian ESDM
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun pada Rabu (21/1). Hal ini menyusul tekanan ketegangan geopolitik global dan perkiraan kenaikan persediaan minyak mentah dari Amerika Serikat (AS).
Dilansir dari Reuters, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret melemah 1,31% ke US$59,57. Sementara itu, kontrak Brent untuk bulan yang sama belum mulai diperdagangkan, setelah pada sesi sebelumnya menguat 1,53% ke US$64,92.
Baca Juga: DPR Kembali Soroti Kebocoran Minyak Vale, Ini Penjelasan Bos Vale
Pada perdagangan sebelumnya, harga minyak sempat naik menyusul laporan dari Kazakhstan. Negera itu menghentikan sementara produksi ladang minyak dari Tengiz dan Korolev.
Produksi minyak di kedua ladang tersebut berpotensi terhenti selama tujuh hingga sepuluh hari. Ladang Tengiz merupakan salah satu ladang minyak terbesar di dunia.
Namun, Analis Pasar IG, Tony Sycamore menilai gangguan produksi tersebut bersifat sementara dan tidak cukup kuat untuk menahan tekanan pasar yang lebih luas.
“Penghentian Tengiz dan Korolev akibat masalah distribusi listrik hanya bersifat sementara, sementara tekanan dari faktor geopolitik dan perkiraan kenaikan persediaan minyak mentah akan terus membebani pasar,” kata Sycamore.
Sentimen pasar juga tertekan oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ia menegaskan tidak akan mundur dari tujuannya untuk menguasai Greenland.
Baca Juga: Harga Emas Cetak Rekor Baru Menyusul Ancaman Tarif Trump
Ancaman Trump sebelumnya untuk memberlakukan tarif baru terhadap sejumlah negara blok euro jika tidak tercapai kesepakatan terkait dinilai berisiko menekan pertumbuhan ekonomi global. Tekanan tersebut turut membatasi potensi penguatan harga minyak di pasar global.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Advertisement