Kredit Foto: BCA
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memproyeksikan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2026. Proyeksi ini muncul di tengah tekanan nilai tukar yang hampir mencapai Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Chief Economist BCA, David Sumual, mengatakan BI perlu menahan bunga acuan untuk menjaga daya tarik aset rupiah.
“Ekspektasinya masih ditahan untuk mempertahan daya tarik aset Rupiah apalagi memang Rp cenderung melemah akhir-akhir ini,” kata David kepada Warta Ekonomi, Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Baca Juga: Rupiah Nyaris Rp17.000, BI Diproyeksi Tahan BI Rate
Menurut David, kondisi inflasi domestik yang relatif stabil memberikan ruang bagi BI untuk mempertahankan suku bunga acuan. Langkah tersebut dinilai menjadi opsi terbaik guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
David menjelaskan, tekanan terhadap rupiah terutama berasal dari penguatan indeks dolar AS sejak awal tahun. Kondisi tersebut membuat pergerakan rupiah menjadi fluktuatif sebagai respons terhadap sentimen global.
“Penyebabnya dollar index cenderung menguat sejak awal tahun (2026),” tambahnya.
Baca Juga: Saham Bank Jumbo Ambruk Berjamaah Jelang Pengumuman Suku Bunga BI
Selain faktor eksternal, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh arus investasi portofolio asing yang cenderung keluar dari pasar keuangan domestik.
Berdasarkan data Bank Indonesia, terjadi aliran modal asing keluar (capital outflow) sebesar Rp7,71 triliun pada pekan kedua Januari 2026.
Pada periode 12 hingga 14 Januari 2026, nonresiden tercatat melakukan jual neto sebesar Rp7,71 triliun di pasar keuangan domestik. Aliran modal asing keluar tersebut terjadi di pasar Surat Berharga Negara (SBN) serta Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Cita Auliana
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait:
Advertisement