Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Saham perbankan berkapitalisasi besar kompak melemah pada penutupan sesi pertama perdagangan Rabu (21/1/2026), seiring pelaku pasar menanti keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia. Data Stockbit menunjukkan seluruh saham bank jumbo bergerak di zona merah.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat pelemahan terdalam dengan koreksi 150 poin atau -1,88% ke level Rp7.850. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) ikut turun 40 poin atau setara 1,04% ke Rp3.810.
Tekanan juga menimpa PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang merosot 60 poin atau 1,31% ke Rp4.510. Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) terpangkas 45 poin atau 0,90% ke Rp4.980.
Kondisi serupa terlihat pada saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) yang melemah 15 poin atau 1,23% ke level Rp1.205. Adapun PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) turun 40 poin atau 1,79% ke Rp2.190 pada pertengahan hari ini.
Baca Juga: Saham UNTR dan ASII Kompak Ambruk Usai Izin Tambang Martabe Dicabut Prabowo
Pelemahan saham perbankan turut menyeret kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Mengacu data RTI, IHSG siang ini anjlok 113,21 poin atau 1,24% ke posisi 9.021,48. Sentimen negatif mendominasi pergerakan pasar, dengan 575 saham tercatat melemah, hanya 143 saham menguat, dan 83 saham bergerak stagnan.
Dari sisi aktivitas perdagangan, IHSG telah mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp20,9 triliun. Volume transaksi mencapai 38,72 miliar lembar saham dengan frekuensi 2.564.253 kali transaksi.
Sementara itu, para ekonom memproyeksikan Bank Indonesia akan mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen pada pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Januari 2026 yang dijadwalkan berlangsung Rabu siang ini. Proyeksi ini sejalan dengan masih berlanjutnya pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir.
Baca Juga: Jelang Pengumuman BI Rate, IHSG Anjlok 1,24% ke Level 9.021
Meski terdapat arus masuk modal portofolio pasca penurunan suku bunga Amerika Serikat, Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menilai tekanan eksternal masih cukup dominan. Penguatan dolar AS serta sentimen risiko global dinilai membatasi ruang penyesuaian kebijakan suku bunga domestik.
“Mempertahankan suku bunga kebijakan pada level 4,75 persen akan membantu menjaga kecukupan diferensial suku bunga, memperkuat kepercayaan pasar, dan membatasi volatilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut,” kata Riefky dalam laporan bulanan LPEM FEB UI, dikutip dari Antara.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Advertisement