Kredit Foto: Ist
Forum ekonomi dunia di Davos menjadi panggung bagi pemerintah Indonesia untuk memperkenalkan instrumen investasi baru yang diproyeksikan menjadi penopang pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Di hadapan para pemimpin dunia dan pelaku pasar global, Presiden Prabowo Subianto memperkenalkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara sebagai sovereign wealth fund nasional.
Instrumen tersebut diposisikan sebagai alat strategis untuk mengelola aset negara dan mengarahkan investasi ke sektor-sektor produktif.
Institute for Development of Economics and Finance menilai langkah tersebut berpotensi membawa dampak struktural terhadap perekonomian Indonesia.
Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti mengatakan Danantara dirancang sebagai dana abadi pemerintah yang tidak digunakan untuk membiayai kebutuhan rutin negara.
Skema tersebut, menurut dia, memungkinkan pembiayaan sektor strategis dilakukan melalui imbal hasil investasi berkelanjutan, bukan melalui belanja APBN.
Sektor yang menjadi sasaran utama meliputi pendidikan, ketahanan pangan, serta pengembangan inovasi sebagai fondasi peningkatan daya saing nasional.
Dalam kajian yang dilakukan Institute for Development of Economics and Finance atau Indef, reformasi berbasis Danantara menunjukkan respons awal yang cukup kuat terhadap indikator makroekonomi.
Produk Domestik Bruto tercatat mengalami peningkatan hampir tiga persen dibandingkan kondisi dasar sebelum kebijakan dijalankan.
Lonjakan tersebut mencerminkan efek awal dari percepatan investasi produktif terhadap aktivitas ekonomi nasional.
Seiring waktu, laju pertumbuhan bergerak lebih moderat setelah perekonomian memasuki fase penyesuaian struktural.
Dalam proyeksi jangka panjang, pertumbuhan diperkirakan bertahan di kisaran dua persen dan mencerminkan efek pertumbuhan yang bersifat berkelanjutan.
Indef mencatat bahwa peningkatan tersebut terutama didorong oleh kenaikan stok kapital nasional.
Penurunan pajak modal dan peningkatan produktivitas menjadi faktor utama yang mempercepat proses akumulasi kapital.
Pada fase tertentu, akumulasi modal mendekati puncak tiga persen, yang menurut Indef menunjukkan proses pembentukan kapital yang kuat.
Dari sisi konsumsi, konsumsi agregat meningkat secara bertahap hingga sekitar 1,5 persen seiring kenaikan pendapatan riil.
Namun dalam jangka pendek, terjadi penyesuaian konsumsi akibat pergeseran sumber daya menuju investasi produktif.
Pola tersebut dinilai konsisten dengan perilaku konsumsi antartemporal rumah tangga.
Pada pasar tenaga kerja, jumlah tenaga kerja mengalami penurunan moderat sekitar 0,8 persen.
Kondisi itu terjadi ketika peningkatan produktivitas dan upah riil memberikan fleksibilitas waktu kerja yang lebih besar bagi rumah tangga.
Indef menilai dinamika tersebut tidak mengganggu stabilitas ekonomi karena pertumbuhan bersumber dari peningkatan produktivitas.
Di sisi upah, kenaikan total factor productivity mendorong peningkatan produktivitas marjinal tenaga kerja.
Peningkatan tersebut diterjemahkan menjadi upah riil yang lebih tinggi.
Produktivitas yang meningkat juga memperbesar pendapatan dan keuntungan perusahaan.
Dalam pasar tenaga kerja yang kompetitif, perusahaan terdorong menawarkan upah lebih tinggi untuk mempertahankan tenaga kerja terampil.
Meski proyeksi makroekonomi menunjukkan hasil positif, Indef menegaskan bahwa keberhasilan Danantara sangat bergantung pada kualitas tata kelola.
“Manfaat Danantara sangat bergantung pada kualitas tata kelola, seleksi proyek, dan disiplin fiskal," ujar Esther.
Indef juga menilai kebijakan pelengkap diperlukan untuk mengelola dampak distribusional antar kelompok pendapatan.
Program sosial terarah dinilai dapat meredam dampak jangka pendek sekaligus memperkuat legitimasi reformasi.
"Program sosial seperti MBG berpotensi meredam dampak jangka pendek dan memperkuat legitimasi reform," katanya.
Dalam pidatonya di Davos, Presiden Prabowo menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi mensyaratkan tata kelola negara dan pengelolaan modal yang efisien.
Ia menempatkan efisiensi alokasi investasi sebagai prasyarat utama menjaga stabilitas nasional.
“Pada Februari lalu, kami membentuk sovereign wealth fund kami, Danantara Indonesia,” kata Prabowo.
Ia menyatakan Danantara mengelola aset mencapai 1 triliun dolar AS sebagai modal awal pembangunan ekonomi masa depan.
Instrumen tersebut diposisikan sebagai penggerak baru pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait:
Advertisement