Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

‎Fenomena Down-Trading Mencuat, Daya Beli Kelas Menengah Kian Tertekan

‎Fenomena Down-Trading Mencuat, Daya Beli Kelas Menengah Kian Tertekan Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pergeseran pola konsumsi masyarakat semakin menguat dan menjadi sinyal tekanan daya beli, khususnya di kelas menengah. 

‎Fenomena down-trading, atau beralihnya konsumen dari produk mahal ke yang lebih murah, terlihat nyata dari anjloknya penjualan mobil baru, meningkatnya transaksi mobil bekas, melonjaknya penjualan kendaraan roda dua, hingga pergeseran konsumsi makanan dan rokok ke segmen harga rendah dan bahkan ilegal.

‎Senior Macro Strategist PT Samuel Sekuritas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, menilai tren ini mencerminkan adaptasi rumah tangga dalam menjaga daya tahan konsumsi di tengah ketidakpastian ekonomi. 

‎Ia mencontohkan penurunan tajam penjualan four-wheelers atau mobil baru, yang kemudian digantikan oleh peningkatan penjualan mobil bekas.

‎“Kalau kita lihat, four-wheelers anjlok, terus gantinya apa? Gantinya adalah used car. Makanya kalau kita bicara performa ASSA, penjualan used car-nya naik,” ujar Fithra dalam pemaparannya, dikutip Minggu (25/1/2026).

Baca Juga: Kerugian Rp9,1 T, Scam Gerus Daya Beli Masyarakat

‎Selain mobil bekas, konsumsi kendaraan roda dua juga mengalami peningkatan. Menurut Fithra, hal ini menunjukkan konsumen melakukan down-trading ke pilihan transportasi yang lebih terjangkau seiring menyempitnya ruang belanja rumah tangga.

‎Pola serupa juga terlihat di sektor konsumsi harian. Fithra menilai perubahan lanskap usaha makanan menjadi indikator penting tekanan daya beli. 

‎Ia menyinggung kondisi pusat kuliner yang relatif lebih sepi, sementara jaringan makanan dengan harga murah justru ramai.

‎“Sekarang mungkin relatif lebih sepi, yang ramai mana? Mie Gacoan,” katanya, menggambarkan pergeseran preferensi konsumen ke produk dengan harga lebih rendah.

‎Tekanan konsumsi juga berdampak pada penerimaan negara. Fithra mencatat penerimaan cukai rokok mengalami penurunan signifikan, yang sebagian dipicu oleh peralihan konsumsi ke rokok ilegal. Ia memperkirakan penurunan penerimaan cukai mencapai Rp2 triliun hingga Rp3 triliun.

‎“Cukai rokok anjlok, masuk juga ke illegal cigarettes. Kenapa? Down-trading juga,” ujarnya.

‎Fenomena ini tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan dinamika pasar tenaga kerja. Meski tingkat pengangguran nasional masih tergolong rendah, banyak pekerja terpaksa bertahan di sektor informal demi menjaga kelangsungan hidup.

Kondisi tersebut membatasi kemampuan konsumsi dan mendorong rumah tangga untuk memilih barang dan jasa dengan harga lebih murah.

‎Fithra menilai sebagian besar masyarakat tidak memiliki pilihan untuk menganggur. Ketika tabungan menipis dan kebutuhan dasar harus dipenuhi, pekerjaan apa pun menjadi jalan keluar, meski dengan pendapatan yang lebih rendah dan tidak stabil.

Baca Juga: Kelas Menengah Tertekan, Kadin Soroti PR Ekonomi

‎“Mayoritas mereka adalah orang yang tidak mampu untuk menganggur. Tidak mampu untuk menganggur artinya kalau menganggur sudah tidak ada tabungan lagi, anak istri tidak bisa makan, makanya harus tetap bekerja,” katanya.

‎Tekanan daya beli ini menjadi tantangan bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Menurut Fithra, meski konsumsi masih bergerak, kualitasnya menurun. 

‎Hal tersebut tercermin dari dominasi produk murah, sektor informal yang membesar, serta melemahnya kontribusi konsumsi terhadap penerimaan fiskal.

‎Dalam jangka panjang, fenomena down-trading berpotensi menekan kinerja emiten yang bergantung pada segmen menengah ke atas, sekaligus mengubah struktur pasar konsumsi domestik. 

‎Di sisi lain, perusahaan yang fokus pada produk terjangkau dan pasar sekunder justru berpeluang mempertahankan kinerja.

‎Fithra menegaskan bahwa tantangan utama bukan sekadar menjaga pertumbuhan ekonomi, melainkan memastikan daya beli masyarakat pulih dan konsumsi kembali berkualitas. 

‎"Tanpa perbaikan pendapatan dan kualitas pekerjaan, down-trading berisiko menjadi pola struktural, bukan lagi respons sementara terhadap tekanan ekonomi," jelasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Uswah Hasanah
Editor: Belinda Safitri

Advertisement

Bagikan Artikel: