Kredit Foto: Unsplash/Stillness InMotion
Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri menegaskan komitmen Kementerian Perdagangan (Kemendag) dalam mendukung penguatan industri gim nasional.
Salah satu upaya yang dilakukan Kemendag adalah dengan penguatan akses pasar di dalam dan di luar negeri. Untuk pasar lokal, Kemendag menggelar kampanye Ayo Hari Game Indonesia (Hargai) pada 2024, Indonesian Games Week dan Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) pada 2025.
Baca Juga: UMKM Kunci Resiliensi Ekonomi RI di Tengah Ketidakpastian Global
Sedangkan untuk pasar glonal, Kemendag melakukan perluasan melalui perwakilan perdagangan RI di berbagai negara.
Ini disampaikan Wamendag saat membuka LapakGaming Battle Arena Series 3 di Jakarta, Sabtu (24/1/2026).
”Komitmen Kemendag untuk terus mendukung penguatan industri gim lokal juga dilakukan melalui penyediaan pasar khusus (captive market) serta sinergi promosi lintas kementerian dan platform. Dalam konteks perdagangan, gim merupakan komoditas kreatif yang mampu menggerakkan berbagai subsektor ekonomi, sekaligus membuka peluang ekspor berbasis kekayaan intelektual Indonesia,” ujar Wamendag Roro, dikutip dari siaran pers Kemendag, Selasa (27/1).
Wamendag Roro menambahkan, gim merupakan sumber kekayaan intelektual yang memiliki rantai nilai ekonomi panjang. Monetisasi industri gim tidak berhenti pada penjualan gim atau isi ulang (top up), tetapi juga mencakup dagangan pendukung (merchandise), komik, animasi, hingga kolaborasi dengan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta sektor ritel.
Lebih lanjut, Wamendag Roro mengungkapkan bahwa potensi pasar gim Indonesia sangat besar. Nilai pasar gim nasional diperkirakan mencapai USD 2,5 miliar.
Berdasarkan data Agate Whitepaper pada 2025, Indonesia menempati posisi ketiga terbesar di dunia dari sisi jumlah unduhan gim, serta memiliki lebih dari 192 juta pemain gim (gamer) atau sekitar 43 persen dari total pemain gim di Asia Tenggara.
Namun demikian, lanjut Wamendag Roro, potensi pasar gim yang besar tersebut belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan oleh pengembang gim nasional. Saat ini, nilai pasar gim asing di Indonesia masih relatif lebih besar dibandingkan gim lokal.
Wamendag Roro menjelaskan, tantangan yang dihadapi pengembang gim nasional bukan terletak pada kualitas maupun kreativitas produk, melainkan pada keterbatasan akses terhadap etalase digital, visibilitas, distribusi, serta pengembangan mekanisme monetisasi yang selaras dengan karakter konsumen Indonesia.
Oleh karena itu, diperlukan pembangunan jalur monetisasi yang konkret dan inklusif bagi pengembang gim lokal agar dapat menjembatani antusiasme konsumen dengan transaksi ekonomi yang sehat dan berkelanjutan.
Menurut Wamendag Roro, kegiatan seperti LapakGaming Battle Arena Series 3 memiliki peran strategis dalam membangun infrastruktur pasar bagi gim lokal. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi sarana bagi pengembang gim nasional untuk memperluas jejaring, meningkatkan eksposur produk, serta memperkuat koneksi antara kreator, platform, dan konsumen.
“Ke depan, tugas kita bersama bukan hanya menciptakan gim yang berkualitas, tetapi memastikan potensi pasar yang besar ini benar-benar terkonversi menjadi nilai ekonomi bagi pengembang gim nasional. Dengan sinergi yang kuat, kami optimistis industri dan ekosistem gim Indonesia akan tumbuh berkelanjutan dan berdaya saing global,” pungkas Wamendag Roro.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait:
Advertisement