Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Isu potensi penyesuaian aturan perhitungan indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) kembali menjadi perhatian pelaku pasar pada awal 2026, menyusul kekhawatiran dampaknya terhadap saham-saham berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Namun, praktisi pasar modal menilai reaksi tersebut cenderung berlebihan karena perubahan metodologi indeks global dinilai tidak berpengaruh signifikan terhadap stabilitas saham unggulan Indonesia yang memiliki likuiditas tinggi dan basis investor kuat.
Penilaian tersebut disampaikan praktisi pasar modal sekaligus Co-Founder PasarDana, Hans Kwee, yang menilai isu terkait MSCI kerap memicu volatilitas jangka pendek meskipun dampak riilnya terhadap saham blue chip relatif terbatas.
Ia menyampaikan pandangan tersebut dalam konteks dinamika pasar saham Indonesia yang semakin matang, dengan struktur investor yang tidak lagi terlalu bergantung pada arus dana asing.
“Setiap ada isu MSCI, pasar sering kali bereaksi berlebihan. Padahal, dampaknya tidak sebesar yang dibayangkan, terutama untuk saham-saham blue chip dengan likuiditas tinggi,” ujar Hans, Selasa (27/1/2026).
Menurut Hans, perubahan metodologi indeks MSCI bukan fenomena baru di pasar global dan telah berulang kali terjadi.
Dalam berbagai penyesuaian sebelumnya, saham-saham unggulan Indonesia dinilai tetap mampu bertahan karena didukung oleh fundamental perusahaan yang solid serta dominasi pasar di sektor masing-masing.
Ia menjelaskan, meskipun indeks MSCI menjadi acuan bagi banyak investor institusional global, porsi Indonesia dalam perhitungan indeks tersebut relatif kecil dibandingkan negara-negara dengan kapitalisasi pasar lebih besar.
Dengan demikian, perubahan teknis dalam metodologi tidak serta-merta memicu aksi jual besar-besaran terhadap saham Indonesia.
“Kalaupun ada penyesuaian, itu lebih bersifat teknikal dan biasanya sudah diantisipasi pasar. Bukan sesuatu yang fundamental,” katanya.
Hans menambahkan, dalam beberapa periode, tekanan harga yang muncul akibat sentimen indeks justru tidak sejalan dengan kinerja emiten.
Kondisi ini kerap membuka ruang bagi investor untuk melakukan akumulasi saham-saham berkualitas pada valuasi yang lebih menarik.
“Kalau fundamentalnya bagus, koreksi karena isu indeks justru bisa jadi kesempatan beli,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti pergeseran struktur investor di pasar modal domestik. Peningkatan partisipasi investor ritel dan institusi domestik membuat ketergantungan IHSG terhadap dana asing terus menurun. Situasi tersebut dinilai memperkecil potensi dampak negatif dari perubahan indeks global terhadap pasar saham nasional.
Dalam konteks ketidakpastian global yang masih berlangsung, Hans mengingatkan pentingnya bagi investor untuk mencermati faktor-faktor yang bersifat fundamental, seperti kinerja keuangan emiten, prospek pertumbuhan, serta kondisi ekonomi domestik.
Menurutnya, sentimen eksternal seperti isu MSCI bersifat datang dan pergi, sementara kekuatan perusahaan menjadi penentu utama pergerakan saham dalam jangka menengah hingga panjang.
“Isu MSCI datang dan pergi. Tapi kinerja perusahaan dan ekonomi domestik yang menentukan arah pasar,” tegas Hans.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Uswah Hasanah
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait:
Advertisement