Kredit Foto: Uswah Hasanah
Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan akan mengerahkan seluruh upaya yang dinilai perlu untuk menjaga stabilitas pasar modal setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan tajam akibat sentimen global dan kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait pasar saham Indonesia.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mmenegaskan, otoritas bursa tidak akan tinggal diam merespons dinamika yang muncul setelah MSCI mengeluarkan kebijakan terkait pasar saham Indonesia. BEI, kata dia, akan berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk menindaklanjuti isu-isu yang dinilai krusial bagi kepercayaan investor.
“Jadi pada hari ini intinya kita akan melakukan segala effort, kerja sama dengan semua stakeholder kita untuk follow up hal-hal yang dipandang perlu terkait dengan apa yang dikeluarkan oleh MSCI. Tentu kita akan informasikan lagi,” kata Nyoman di Gedung BEI, Rabu (28/1/2026).
Baca Juga: IHSG Ambruk Hampir 8% Karena MSCI, Begini Respon BEI
Pernyataan tersebut muncul setelah IHSG tertekan tajam sejak pembukaan perdagangan. Pada pukul 09.01 WIB, IHSG ambles 586,71 poin atau 6,53% ke level 8.393. Tekanan jual berlanjut hingga penutupan sesi I, dengan IHSG melemah ke level 8.321 atau turun 7,34% dibandingkan posisi pembukaan.
Data BEI menunjukkan aktivitas transaksi masih berlangsung cukup aktif di tengah tekanan pasar. Volume perdagangan tercatat mencapai 4,52 miliar saham dengan nilai transaksi Rp2,95 triliun dan frekuensi 238.195 kali. Namun, tekanan jual mendominasi, tercermin dari jumlah saham yang melemah mencapai 492 emiten, sementara hanya 54 saham yang menguat dan 120 saham stagnan.
Dari sisi eksternal, tekanan terhadap IHSG diperkuat oleh arus keluar dana asing. Riset BRI Danareksa Sekuritas mencatat aksi jual investor asing mencapai Rp5,63 triliun. Tekanan tersebut dipicu ekspektasi suku bunga acuan Amerika Serikat yang diperkirakan bertahan tinggi lebih lama (higher for longer), serta rotasi dana global menjelang proses penyesuaian indeks MSCI.
Sementara dari dalam negeri, pasar juga dibebani aksi ambil untung, terbatasnya katalis jangka pendek, pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp17.000 per dolar AS, serta tekanan pada saham-saham sektor perbankan.
Baca Juga: 764 Saham Kebakaran, IHSG Sesi I Ditutup Melemah 7,34% ke Level 8.321
Merespons perhatian MSCI terhadap aspek transparansi, BEI menyatakan telah melakukan sejumlah perbaikan. Corporate Secretary BEI Kautsar Primadi Nurahmad mengatakan bursa telah meningkatkan keterbukaan data, termasuk dengan mempublikasikan informasi free float saham melalui situs resmi BEI.
Namun, Kautsar menegaskan langkah tersebut masih terbuka untuk disempurnakan apabila dinilai belum memenuhi ekspektasi penyedia indeks global tersebut. BEI, menurutnya, siap melanjutkan dialog dengan MSCI untuk mencapai titik temu terkait transparansi data kepemilikan saham.
“Sebelumnya, kami telah melakukan peningkatan keterbukaan dengan menyampaikan pengumuman data free float di website BEI. Namun jika dirasakan MSCI belum cukup, kami akan terus melakukan diskusi atas transparansi data sesuai proposal MSCI untuk menemukan kesepakatan,” ujar Kautsar dalam keterangannya, Rabu (28/1/2026).
MSCI sendiri menyatakan akan terus memantau perkembangan pasar modal Indonesia dan berinteraksi dengan otoritas terkait, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI. Penyedia indeks global tersebut juga menegaskan akan mengomunikasikan langkah lanjutan apabila diperlukan, seiring evaluasi berkelanjutan terhadap aksesibilitas dan kualitas pasar Indonesia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Uswah Hasanah
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait:
Advertisement