Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Saham Naik Saat Fluktuasi Harga Emas, HRTA Optimis Permintaan Tetap Kuat Tahun Ini

Saham Naik Saat Fluktuasi Harga Emas, HRTA Optimis Permintaan Tetap Kuat Tahun Ini Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pada 29 Januari 2026, harga emas dunia sempat mencapai puncak tertinggi sepanjang masa di level USD5.594 per ounce, melonjak sekitar 24% secara year-to-date (YTD) dari posisi awal Januari. Dalam denominasi Rupiah, kenaikan harga bahkan lebih terasa, sempat menyentuh Rp3.021.839 per gram.

Namun, euforia tersebut diikuti oleh koreksi tajam. Harga emas global sempat anjlok lebih dari 10% dalam beberapa hari berikutnya, turun ke kisaran USD4.400 per ounce. 

Koreksi ini dipicu oleh penguatan dolar AS dan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat yang berpotensi lebih ketat. 

Volatilitas serupa juga terlihat di pasar domestik, di mana harga emas batangan sempat turun sekitar Rp183.000 per gram dalam sehari di awal Februari 2026. Kini, harga terbaru HRTA Gold per 9 Februari 2026 tercatat sebesar Rp2.926.000 per gram.

Thendra Crisnanda, Direktur Investor Relations PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), menilai koreksi jangka pendek ini justru menunjukkan karakter emas sebagai aset yang likuid sekaligus membuka peluang akumulasi bagi konsumen yang ingin menabung jangka panjang. 

“Ketidakpastian geopolitik, risiko fiskal, serta arah kebijakan moneter global terus mendorong minat terhadap emas,” ujar Thendra dikutip dari keterangan tertulisnya, Senin (09/02/2026).

Kenaikan harga emas yang masif pada Januari 2026 didorong oleh beberapa faktor fundamental. Isu geopolitik global, termasuk potensi government shutdown di AS dan ketegangan internasional, mendorong masyarakat melirik emas sebagai tabungan bernilai yang dapat menjaga nilai aset. 

Di sisi makroekonomi, inflasi AS yang relatif stabil di kisaran 2% dan sikap The Federal Reserve yang masih menahan suku bunga turut membentuk ekspektasi pasar yang mendukung harga emas.

Selain itu, permintaan global dari bank sentral dunia masih menjadi penopang utama. Data perdagangan Swiss menunjukkan ekspor emas Swiss, yang merupakan indikator permintaan, meningkat 27% secara bulanan pada Desember 2025. 

Hingga kuartal III 2025, World Gold Council mencatat Amerika Serikat masih menjadi pemegang cadangan emas terbesar (8.133 ton), diikuti oleh negara-negara Eropa.

Di tengah volatilitas, konsensus institusi keuangan global menempatkan proyeksi harga emas 2026 di level yang tinggi. Deutsche Bank menargetkan harga emas mencapai USD6.000 per ounce, sementara UBS AG menaikkan targetnya ke USD6.200 per ounce untuk kuartal I–III 2026. Morgan Stanley memproyeksikan skenario bullish di level USD5.700 per ounce.

Secara umum, konsensus pasar menempatkan harga emas 2026 di kisaran USD5.000–6.000 per ounce, mencerminkan ekspektasi berlanjutnya permintaan safe haven dan lingkungan suku bunga riil yang relatif rendah.

Di tengah reli harga emas global, saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) menunjukkan kinerja kuat. Saham HRTA melonjak sekitar 580% sepanjang 2025, dari Rp328 per saham menjadi Rp2.150 per saham di akhir tahun. Kinerja ini mencerminkan kepercayaan pasar terhadap fundamental dan prospek pertumbuhan perusahaan.

“Dengan fundamental yang terjaga dan ekosistem bisnis emas yang semakin terintegrasi, kami melihat momentum harga emas saat ini sebagai peluang untuk memperkuat peran HRTA dalam memenuhi kebutuhan pasar domestik,” tutup Thendra. 

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Bagikan Artikel: