Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Komoditas Ikan Pindang Mulai Bergeliat, Siap Bidik Pasar Modern

Komoditas Ikan Pindang Mulai Bergeliat, Siap Bidik Pasar Modern Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Komoditas ikan pindang menjadi salah satu pendongkrak konsumsi ikan di Indonesia dan juga memberi manfaat nilai keekonomisan yang tinggi untuk menggerakan ekonomi kerakyatan.

Permintaan ikan pindang pun terus meroket, tidak hanya tersedia di pasar-pasar tradisional, tapi siap melenggang mengisi pasar modern.

Hal itu disampaikan oleh produsen ikan pindang, Hidayat, pendiri sekaligus pemilik PT. Hidayat Bahari Sejahtera

"Saya produksi ikan pindang sudah 30 tahun. Selama ini memang kami hanya memproduksi untuk dijual oleh para pedagang saya di pasar tradisional. Tahun ini produksi ikan pindang kami akan mengisi pasar-pasar modern," kata Hidayat.

Ia juga menceritakan selama 8 bulan ini, tempat produksinya melakukan revitalisasi besar-besaran.  Mulai dari tempat memasak, dari memakai kayu kini beralih ke gas agar tempatnya lebih bersih dan higienis.

"Ada juga gudang penyimpanan (cold storage) yang bisa menampung ikan olahan yang selesai di masak bisa langsung masuk ke ruang pendingin jadi ikan tetap segar. Kalau pola tradisional ikan setelah diolah dan dimasak dikemas dengan keranjang bambu. Sekarang kami pelan-pelan ikan pindang produksi kami dikemas dengan di vakum dan ini akan masuk ke pasar modern," tambahnya.

Ia menjelaskan kalau hanya menggunakan keranjang bambu ikan hanya bertahan satu hari. Tapi kalau sudah dikemas dan di vakum ikan bisa bertahan berminggu-minggu jika di letakan di tempat atau ruang pendingin, sambungnya.

Hidayat pun mengatakan saat ini sudah siap produksi, tapi belum bisa memasarkan ke pasar modern karena masih dalam proses.

"Kalau Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP) dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sudah. Masih ada izin edar dari BPOM dan SNI yang masih dalam perbaikan dokumen. Jika ini sudah clear and clean dan semua izin keluar ikan pindang siap hadir di etalase-etalase pasar modern," ujarnya.

Ia menjelaskan saat ini produksi ikan pindang bisa mencapai 1 ton per hari itu untuk mengisi pasar wilayah Serpong dan sekitarnya.

"Ada sampai ke Cianjur karena jarak paling seminggu dua kali pengiriman. Dan ada beberapa permintaan di Serang, dan Banten tapi belum bisa kami penuhi karena masalah jarak sementara ikan pindang tradisional tidak bisa bertahan lama makanya belum kami penuhi semua. Berbeda, kalau nanti sudah kemasannya di vakum ikan bisa tahan lama, selama masih ada stok produksi nanti kami kirim,” ujarnya lagi.

"Ikan pindang yang akan di pasarkan di pasar modern ada ikan tongkol, cakalang, dan pindang ikan bandeng. Ketiga ikan ini sudah kami coba pasarkan juga di pasar-pasar tradisional kami packing menggunakan thinwall per 10 ekor, dan disimpan Styrofoam Box agar ikan lebih fresh. Dan alhamdulillah responnya positif pasar sudah bisa menerima," jelasnya.

Hal senada disampaikan oleh Rhomadho, pemilikUD Dua Putri yang mengatakan pasar ikan pindang terus meningkat, ini karena harganya yang terjangkau.

"Permintaan terus naik apalagi sekarang ada makan siang bergizi gratis (MBG), hanya saja kami tidak bisa mengakomodir permintaan itu semua karena produksi kami masih untuk pedagang-pedagang yang sudah langganan," kata Rhomadhon yang merupakan supplier ikan pindang untuk wilayah Demak dan Semarang.

"Saat ini saja, kami harus memenuhi pedagang-pedagang kami sering kewalahan dapat barang. Makanya sementara ini kami masih prioritaskan pedagang dulu, permintaan untuk MBG nanti setelah produksi sudah kembali normal, baru permintaan yang untuk MBG coba kami akomodir," tambahnya.

Ia bercerita memborong ikan pindang dari Juwana, Pati, dalam sehari butuh 4 ton itu untuk ikan pindang Ikan layang, ikan banjar, dan ikan salem. Ia pun menyanggupi ketika pasar ikan pindang mencoba membidik pasar modern.

"Kalau kami pedagang mau pasar tradisional atau pasar modern selama ada permintaan dan kami bisa dapatkan barang pasti kami isi. Hanya saja, untuk pasar modern belum ada yang produksi. Tapi kalau memang sudah ada yang produksi, dan kami bisa mendapatkan barangnya, pasti akan kami coba buka pasarnya. Kalau ikan pindang tradisonal itu kan hanya bisa bertahan satu hari. Kalau masuk pasar modern ikan harus lebih tahan lama. Dan saat ini belum, tapi kalau ada kesempatan pasti akan kami coba," tuturnya.

Di Karawang belakangan ini ramai inovasi ikan pindang berbahan baku ikanbandeng yang dikelola oleh  Kelompok Pengolah dan Pemasaran Ikan. Inovasi ini sebagai langkah alternatif memasukan ikan budidaya menjadi bahan baku ikan pindang.

Ketua Kelompok Pengolahan dan Pemasar (Poklahsar) Raosna, Karawang, Muhidi, mengatakan, ikan pindang menjadi menu ikan utama masyarakat. Di pasar ikan pindang dikenal dengan ikan-ikan laut, hanya saja ikan laut kadang terkendala di bahan baku.

"Akhirnya kami memilih ikan bandeng untuk dipindang. Awalnya karena bahan baku ikan laut dimusim tertentu susah. Lalu kami pakai alternatif lain dan kami memilih ikan bandeng karena di Karawang bahan bakunya tersedia,” ungkapnya.

Menurut Muhidi, anggota kelompoknya bisa produksi paling sedikit 20 Kg perharinya, dan kalau ada pesanan untuk dapur MBG satu dapur aja bisa 1 sampai 1,5 Kuintal.

"Pindang bandeng ini ramah untuk anak-anak. Dan Alhamdulillah adanya MBG membantu penjualan kami,” ujarnya. 

Ahli Gizi, Putri Wulan mengatakan kandungan gizi ikan pindang sangat baik karena kaya akan protein yang mengandung asam amino esensial yang baik untuk perbaikan tubuh dan peningkatan enzim  dalam tubuh.

"Kaya akan kandungan lemak omega 3 yang bagus untuk fungsi otak dan jantung. Adapun kelebihan dari ikan pindang laut kaya akan mineral, sementara ikan pindang dengan duri lunak bagus untuk kalsium. Apa yang terkandung dalam ikan hampir semuanya yang dibutuhkan tubuh, Makanya, ikan bagus baik untuk anak-anak sampai orang dewasa,” tandasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat

Bagikan Artikel: