Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Ekonom Spill Tips Investasi di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Ekonom Spill Tips Investasi di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Kredit Foto: Azka Elfriza
Warta Ekonomi, Jakarta -

Chief Economist Permata BankJosua Pardede mengingatkan investor untuk menyesuaikan strategi penempatan dana dengan profil risiko masing-masing di tengah ketidakpastian ekonomi.

Ia mengungkap, tidak ada instrumen investasi yang cocok untuk semua orang karena keputusan investasi sangat bergantung pada toleransi risiko individu.

“Kalau investasi saya pikir kalau dalam kondisi seperti ini tentunya akan dikembalikan lagi kepada risk profile kita,” ujar Josua dalam acara Membaca Masa Depan Properti Indonesia: Transisi Pasar dan Peluang 2026 di Jakarta, Kamis (12/2/2026).

Josua menjelaskan bahwa bagi investor pemula atau first timer, pilihan instrumen yang relatif stabil dapat menjadi pertimbangan awal. Instrumen tersebut dinilai lebih sesuai untuk investor yang belum terbiasa menghadapi volatilitas pasar.

“Kalau misalkan Anda adalah first timer untuk investasi tentunya diarahkan reksadana ataupun pendapatan tetap dalam hal ini obligasi. Kalau kita bicara obligasi tentu obligasi pemerintah yaitu yang paling relatif paling aman,” katanya.

Sementara itu, bagi investor dengan pengalaman yang lebih tinggi, Josua menyebutkan bahwa pilihan instrumen investasi dapat lebih beragam. Investor dengan tingkat pengalaman menengah dinilai memiliki ruang lebih luas untuk masuk ke instrumen dengan risiko yang lebih tinggi.

“Yang berikutnya adalah kalau misalkan yang sudah lebih intermediate lagi tentunya investasi ke reksadana. Misalkan campuran ataupun saham,” ujarnya.

Meski demikian, Josua menegaskan bahwa seluruh keputusan investasi tetap harus dikembalikan pada profil risiko masing-masing individu. Ia menilai pendekatan investasi yang disamaratakan tidak relevan karena setiap investor memiliki kapasitas dan karakter yang berbeda dalam menghadapi risiko.

“Tapi kembali lagi ini harus dikembalikan lagi kepada profil risiko dari masing-masing individu kita, tidak bisa kita pukul rata. Apa instrumen investasi dan yang mana yang tepat untuk semua orang gitu karena tidak bisa ya,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa perbedaan karakter investor akan memengaruhi respons terhadap kondisi pasar yang berfluktuasi. Menurut Josua, sebagian investor dengan toleransi risiko tinggi cenderung melihat volatilitas sebagai peluang, sementara investor dengan toleransi risiko rendah akan lebih memilih instrumen yang stabil.

“Karena bisa saja dalam kondisi seperti ini kalau Anda memang risk taker ya Anda pasti akan beli saham saat ini. Tapi kalau misalkan Anda bukan orang yang risk takerrisk averse ya pasti Anda akan memilih masuk di pasar uang ataupun di obligasi,” ujarnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri

Bagikan Artikel: