Jurus BI Hadapi Pelemahan Rupiah, Penukaran Uang Jelang Idulfitri, dan Tantangan Inovasi
Kredit Foto: Mochamad Ali Topan
Bank Indonesia bersama perbankan kembali memperkuat layanan penukaran uang rupiah untuk menjawab kebutuhan ketersediaan uang layak edar bagi masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri (RAFI) 2026.
Untuk tahun ini, diperkirakan terjadi kenaikan ketersediaan uang layak edar sebesar Rp185,6 triliun, setara kenaikan 15% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu Rp161,3 triliun pada 2025.
Asisten Direktur Departemen Pengelolaan Uang BI, Fenty Tirtasari Ekarina, mengatakan bahwa proyeksi kebutuhan uang selama Ramadan dan Lebaran akan mengalami kenaikan. Hal itu sejalan dengan aktivitas ekonomi, mobilitas masyarakat, dan konsumsi rumah tangga yang menguat, serta kebutuhan sistem pembayaran, baik tunai maupun non tunai, yang diprakirakan meningkat selama periode RAFI, sekaligus mendorong pertumbuhan 2026.
Adapun kebutuhan Uang Pecahan Besar (UPB) sebesar Rp164,3 triliun (naik 14,9%) dan Uang Pecahan Kecil (UPK) sebesar Rp21,3 triliun (naik 16,5%).
"Kami memperkirakan outflow di periode Ramadan dan Idulfitri tertinggi terjadi di Jawa 35,8%, Jakarta 28,3%, Sumatra 19,3%, disusul Kalimantan, Sulampua, dan Balinusra," kata Fenty dalam Capacity Building Media yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jatim di Bandung, kemarin.
Rupiah Kian Melemah
Beberapa hari terakhir ini, nilai tukar rupiah terus melemah. Senin (16/2/2026), rupiah berada di level Rp16.825 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini menunjukkan rupiah melemah 0,07% dibanding penutupan Jumat (13/2/2026) kemarin yang berada di level Rp16.836 per dolar AS. Pelemahan rupiah ini berbeda dengan pergerakan sebagian besar mata uang di Asia.
Dolar Taiwan, misalnya, kini melonjak 0,3%. Disusul ringgit Malaysia yang terangkat 0,19%. Sementara baht Thailand menanjak 0,16% dan won Korea Selatan terapresiasi 0,13%. Lalu, peso Filipina naik 0,12%, dolar Singapura naik 0,06%, dan dolar Hong Kong menguat tipis 0,02%. Yen Jepang menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,35%, dan rupee India melemah 0,11%.
Menanggapi hal itu, Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jatim, Rifki Ismal, di tempat yang sama mengakui, stabilitas nilai tukar rupiah yang melemah tak hanya dipengaruhi kondisi global. Tingginya konsumsi barang impor mendorong peningkatan kebutuhan valuta asing karena permintaan dolar meningkat untuk membiayai impor, sehingga tekanan terhadap rupiah pun ikut menguat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Mochamad Ali Topan
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: