Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Waduh! Kapitalisasi Pasar Modal Dikuasai oleh 10 Emiten dengan Valuasi Tak Masuk Akal

Waduh! Kapitalisasi Pasar Modal Dikuasai oleh 10 Emiten dengan Valuasi Tak Masuk Akal Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ekonom Senior Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menyoroti struktur pasar modal Indonesia yang dinilai janggal. Pasalnya, sekitar 40% kapitalisasi pasar saham nasional dikuasai oleh 10 perusahaan dengan price to earnings(PE) ratio di atas 100, bahkan sebagian mencapai 500 hingga lebih dari 1.000.

Ia menjelaskan, PE ratio 100 berarti investor membutuhkan waktu sekitar 100 tahun untuk balik modal apabila seluruh laba dibagikan dalam bentuk dividen, tanpa memperhitungkan nilai waktu uang. Dengan kata lain, valuasi tersebut tergolong sangat mahal.

“Bayangkan, 40% market cap pasar modal kita, perusahaan efek Indonesia, itu dikuasai oleh 10 perusahaan dengan PE ratio di atas 100,” ujarnya dalam diskusi Prospek Arah Pasar Modal Indonesia Pasca MSCI dan Moody’s yang digelar secara daring, Rabu (18/2/2026).

Menurut Wijayanto, kondisi tersebut memunculkan tanda tanya besar terhadap fundamental perusahaan-perusahaan yang mendominasi kapitalisasi pasar. Secara operasional, sebagian emiten dinilai tidak menunjukkan kinerja yang luar biasa.

Baca Juga: Hashim Soroti Ada Saham PE Ribuan Kali, Begini Penjelasan Analis

Selain itu, tingkat free float yang relatif kecil serta minimnya transparansi terkait kepemilikan riil saham turut menambah kekhawatiran pelaku pasar.

“Sehingga ketika harga saham naik, ya banyak yang mencurigai. Ini transaksi semua, transaksi antara affiliated partyuntuk mengiring harga saham naik,” sebutnya.

Jika kondisi tersebut benar terjadi, kata Wijayanto, dampaknya berpotensi merugikan investor ritel yang masuk pada harga tinggi tanpa memahami risiko valuasi.

“Yang dirugikan adalah investor ritel yang ikut-ikutan membeli, padahal valuasinya tidak mencerminkan kondisi fundamental sebenarnya,” ujarnya.

Sebagai perbandingan, Wijayanto menyebut saham-saham berkapitalisasi besar di Amerika Serikat yang kerap disebut mengalami bubble justru memiliki PE ratio yang lebih rendah.

Tujuh raksasa teknologi yang dikenal sebagai The Magnificent Seven seperti Apple, Microsoft, Alphabet, Meta, Nvidia, Amazon, dan Tesla memiliki valuasi tinggi di bursa New York Stock Exchange (NYSE) dan Nasdaq. Rata-rata PE ratio enam perusahaan tersebut, di luar Tesla, berada di kisaran 25 hingga 65.

“Pengecualian Tesla. Ini Tesla memang Elon Musk ini agak-agak unik, ya. Tetapi Magnificent Seven minus Tesla itu PE ratio-nya di rentang 25 hingga 65,” jelasnya.

Baca Juga: Bongkar Ada Saham PE Ribuan Kali, Hashim: Ada yang Salah di Pasar

Angka tersebut masih jauh di bawah sejumlah emiten di Indonesia yang mencatat PE ratio di atas 100, bahkan ratusan hingga ribuan.

“Di Indonesia banyak perusahaan yang PE-nya di atas 100, di atas 200, di atas 300, di atas 500. Dan mereka mendominasi 40% kapitalisasi pasar kita. Ini yang menggambarkan mengapa MSCI mengeluarkan warning,” pungkasnya.

Sebelumnya, Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo, juga menyoroti harga saham perusahaan yang diperdagangkan dengan rasio price to earnings mencapai ratusan hingga ribuan kali sebagai kondisi yang tidak wajar dan menjadi sinyal peringatan (red flag).

Hashim menilai lonjakan PE yang ekstrem menjadi indikasi kuat adanya distorsi harga dan praktik pasar yang tidak sehat.

Baca Juga: Saham Emiten Sawit Tancap Gas, Terkerek Efek CPO Lolos Kebijakan Tarif Trump

“Ketika ada perusahaan dengan PE 167, bahkan 900, 1.200, sampai 4.000 kali, itu ada sesuatu yang salah. Waspada terhadap anomali semacam ini karena itu adalah red flag. Penipuan dan kecurangan pasti ada, dan tugas regulator adalah mencegahnya,” kata Hashim di Jakarta, Rabu (11/2/2026).

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri

Bagikan Artikel: