Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bongkar Ada Saham PE Ribuan Kali, Hashim: Ada yang Salah di Pasar

Bongkar Ada Saham PE Ribuan Kali, Hashim: Ada yang Salah di Pasar Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan harga saham perusahaan yang diperdagangkan dengan rasio price to earnings (PE) mencapai ratusan hingga ribuan kali merupakan tidak wajar dan menjadi sinyal peringatan (red flag).

Hashim menilai lonjakan PE yang ekstrem menjadi indikasi kuat adanya distorsi harga dan praktik pasar yang tidak sehat.

“Ketika ada perusahaan dengan PE 167, bahkan 900, 1.200, sampai 4.000 kali, itu ada sesuatu yang salah. Waspada terhadap anomali semacam ini karena itu adalah red flag  Penipuan dan kecurangan pasti ada, dan tugas regulator adalah mencegahnya,” kata Hashim di Jakarta, Rabu (11/2/2026).

Baca Juga: Hashim Tegur BEI dan OJK: Pemerintah Awasi Anda dengan Ketat!

Menurut Hashim, kondisi tersebut membuat banyak investor terjebak membeli saham dengan valuasi yang tidak mencerminkan fundamental perusahaan. Akibatnya, ketika koreksi terjadi, investor ritel menjadi pihak yang paling terdampak.

Ia menegaskan, pasar yang berintegritas hanya dapat terwujud apabila didukung transparansi, pengawasan ketat, dan kredibilitas regulator. Tanpa itu, anomali valuasi akan terus berulang dan berpotensi menimbulkan korban baru.

Baca Juga: Hashim Sebut Prabowo Murka Saat MSCI Guncang Pasar Modal

Hashim menambahkan, pemerintah berkomitmen memperkuat pengawasan pasar dan memastikan praktik perdagangan berjalan sesuai prinsip kewajaran dan keterbukaan. Ia menilai lemahnya pengawasan terhadap valuasi ekstrem berpotensi menimbulkan risiko sistemik apabila dibiarkan berlarut-larut.

"Pemerintah Indonesia bertekad menjaga kredibilitas dan kehormatan Republik Indonesia. Bagi Presiden Prabowo, kehormatan negara adalah hal yang sangat penting. Karena itu, pengawasan akan dilakukan secara ketat," tegasnya. 

Ia juga mengingatkan bahwa pasar keuangan yang sehat harus mencerminkan kondisi fundamental ekonomi, bukan semata pergerakan spekulatif yang berpotensi merugikan masyarakat luas.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri

Bagikan Artikel: