Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
IESR menemukan, 31,1 GW kapasitas pembangkit mandiri saat ini didominasi oleh PLTU batubara dan gas.
Namun, industri seperti nikel di Sulawesi dan Maluku Utara dihantui risiko stranded asset (aset terbengkalai), karena cadangan mineral yang diperkirakan hanya bertahan paling lama 29 tahun lagi.
"Jika pembangkit captive terus dibangun, ada kemungkinan listrik yang dihasilkan tidak sebanyak yang diperlukan karena produksinya terus menurun," beber Raditya.
Kondisi ini diperparah dengan ancaman pajak karbon lintas batas (CBAM) Uni Eropa mulai 2026.
Baca Juga: KKP Perkuat Tata Kelola Ekosistem Karbon Biru untuk Mitigasi Perubahan Iklim
Produk ekspor unggulan RI seperti baja dan aluminium terancam kehilangan daya saing, karena intensitas emisinya tercatat 45,5% hingga 89,9% lebih tinggi dari standar Eropa.
Untuk mencegah kerugian ekonomi yang lebih besar atau economic lock-in, IESR mendesak pemerintah mengambil langkah strategis, antara lain:
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus