Kredit Foto: Kemendikdasmen
“Tidak hanya dari sisi fasilitas, kami merasa revitalisasi membuat manajemen sekolah menjadi lebih tertata dan profesional. Dengan adanya ruang kantor, berkas-berkas dapat tersimpan rapi, dan pelayanan untuk mendukung proses pembelajaran menjadi jauh lebih mudah dan efektif.” ujar Ihsan.
Terakhir, testimoni akan dampak positif revitalisasi diungkapkan oleh Kepala SD Negeri 1 Loloan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Sahrir. Ia sangat bersyukur program revitalisasi mengubah fisik bangunan di sekolahnya, yaitu pembangunan ruang administrasi, ruang kelas baru, toilet, ruang UKS, serta rehabilitasi ruang perpustakaan.
Dalam proses pembangunan, Sahrir menjelaskan bahwa masyarakat terlibat aktif dan memiliki sense of belonging yang tinggi terhadap sekolah. Mulai dari Ketua Percepatan Program Strategis Pemerintah (P2SP) hingga pelaksana pembangunan berasal dari unsur masyarakat dan komite sekolah, semuanya bersinergi dengan baik. Revitalisasi turut mendongkrak perekonomian sekitar. Material bangunan dibeli dari lingkungan sekitar.
“Dampak revitalisasi di sekolah kami sangat signifikan, terutama dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan nyaman. Kini peserta didik tidak lagi belajar di lantai ruang perpustakaan karena keterbatasan ruang kelas, dan guru dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan lebih optimal karena sarana belajar telah terpenuhi, termasuk ketersediaan meja dan bangku yang memadai,” terang Sahrir.
Ketiga kisah di atas menjadi bukti komitmen nyata pemerintah dalam memenuhi sarana dan prasarana pendidikan secara inklusif termasuk di daerah 3T telah menuai dampak positif. Sebagai salah satu Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menggarisbawahi bahwa program Revitalisasi Satuan Pendidikan tidak hanya sekadar berfokus untuk memperbaiki gedung yang rusak, namun juga untuk menciptakan lingkungan belajar aman, nyaman, dan mendukung transformasi karakter siswa.
Ia juga menyampaikan, “Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, tahun 2026 kami menargetkan penambahan 60 ribu satuan pendidikan penerima revitalisasi, sehingga transformasi dan mutu pendidikan dapat dirasakan di seluruh penjuru negeri,” tutup Menteri Mu’ti.
Sebagai informasi, tahun 2025 jumlah revitalisasi yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah berjumlah 14.072 satuan pendidikan. Dengan rincian 1.515 PAUD, 6.328 SD, 3.989 SMP, dan 2.240 SMA. Khusus untuk daerah 3T, revitalisasi menjangkau 76 PAUD, 419 SD, 325 SMP, dan 129 SMA.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya