Mineral Kritis Jadi Kartu As Indonesia, Bahlil: Bangun Smelter Dulu Baru Ekspor
Kredit Foto: Istimewa
"Jadi, katakanlah mereka membangun smelter di Indonesia untuk nikel, kita akan dorong, kita akan kasih ruang yang sebesar-besarnya, sama juga dengan negara lain. Jadi, jangan diartikan bahwa kita akan membuka ekspor barang mentah.
Yang dimaksudkan di sini adalah mereka setelah melakukan pemurnian, kemudian hasilnya bisa diekspor. Biar clear nih, biar tidak ada salah interpretasi," tegas Bahlil.
Dengan demikian, akses pasar Amerika Serikat hanya berlaku untuk produk yang telah melalui proses hilir. Skema ini dirancang agar investasi memberikan dampak langsung terhadap industri domestik.
Dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan hilirisasi telah mendorong pembangunan fasilitas pemurnian atau smelter di berbagai daerah. Pemerintah menjadikannya instrumen untuk memperkuat struktur industri nasional.
Bahlil mencontohkan pembangunan fasilitas smelter tembaga oleh PT Freeport Indonesia dengan nilai investasi hampir 4 miliar dolar AS. Pola tersebut dinilai bisa menjadi model bagi pengembangan mineral kritis lainnya.
Selain investasi langsung, pemerintah juga membuka peluang kemitraan. Perusahaan asal AS dapat melakukan eksplorasi sendiri atau membentuk joint venture dengan BUMN Indonesia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: